Bagikan:

JAKARTA - Ratusan anak muda Maroko turun ke jalan di setidaknya 11 kota di negara Afrika Utara tersebut pada akhir pekan kemarin. Mereka berunjuk rasa melampiaskan kegelisahan atas kasus korupsi dan sistem infrastruktur kesehatan negaranya.

Demonstrasi dipelopori Gen Z Maroko ini juga menentang Pemerintah Maroko yang menggelontorkan dana untuk acara olahraga internasional Piala Dunia 2030 tetapi mengabaikan kesehatan dan pendidikan masyarakat.

"Stadion sudah ada, tapi di mana rumah sakitnya?" teriak para demonstran, Senin 29 September, dikutip dari AP.

Maroko sedang membangun setidaknya tiga stadion baru dan merenovasi enam stadion lainnya. Negara itu diketahui menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030 dengan Argentina, Paraguay, Portugal, Spanyol, dan Uruguay. 

Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko mengatakan puluhan pendemo ditangkap di beberapa kota oleh aparat pada Sabtu pekan kemarin. Mereka juga disebut mengalami kekerasan fisik dan beberapa di antaranya dibebaskan semalam. 

Demo di sejumlah wilayah di Maroko ini dibubarkan paksa oleh polisi lengkap dengan perlengkapan anti huru hara dan berpakaian preman, termasuk di Rabat, Marrakesh dan Kota Casablanca.

Ilustrasi. Pembangunan stadion. (Dan Klco-Unsplash)

Berbeda dengan aksi demonstrasi sebelumnya di Maroko yang digerakkan oleh serikat pekerja atau partai politik, aksi massa akhir pekan kemarin tidak terorganisir dengan sebagian besar tergerak sendiri oleh seruan di platform media sosial seperti TikTok dan Discord, yang populer di kalangan gamer dan remaja Maroko.

Demonstrasi di Maroko juga biasanya mengangkat isu ketidakadilan regional dan prioritas Pemerintah Pusat yang dianggap timpang di Rabat, lokasi gempa bumi besar magnitudo 7,2 menewaskan ribuan orang tahun 2023.

Sementara aksi massa di banyak wilayah di Maroko akhir pekan kemarin berdasarka memuncaknya kejenuhan anak muda dan masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah Pusat sejak awal tahun 2025.  

Dua kelompok yang terlibat dalam demo ini, "Gen Z 212" dan "Suara Pemuda Maroko" mendesak Pemerintah Maroko menindaklanjuti tuntutan demonstran dengan diskusi terbuka atau mereka akan menyuarakan tuntutan yang lebih militan lagi.

"Tidak ada harapan," kata Youssef, seorang insinyur berusia 27 tahun yang berunjuk rasa di Casablanca. 

"Saya tidak hanya menginginkan reformasi kesehatan dan pendidikan, saya menginginkan reformasi sistem secara menyeluruh," sambungnya.

Di Maroko, ketidakstabilan keamanan muncul dari kerusuhan yang meningkat belum lama ini setelah kasus delapan perempuan meninggal saat melahirkan di sebuah rumah sakit umum di Agadir, sebuah kota pesisir besar yang berjarak 483 kilometer di selatan Rabat. Kasus yang dinilai buah dari buruknya infrastruktur kesehatan di Maroko.