JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan dunia membutuhkan Perserikan Bangsa-Bangsa untuk menjaga perdamaian, menegaskan dukungan Indonesia terhadap badan internasional tersebut.
Berbicara setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Prabowo mengawali pidatonya dengan mengatakan "kita berkumpul di sini sebagai satu keluarga".
"Thucydides mengatakan; Yang kuat melakukan apa yang mereka bisa dan yang lemah menderita apa yang harus mereka derita," kata Presiden Prabowo.
"Kita harus menolak doktrin ini. PBB ada untuk menolak doktrin ini," tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya di Markas PBB New York, Selasa 23 September.
"Kita harus hadir untuk semua pihak, yang kuat dan yang lemah," kata Presiden
Presiden Prabowo mengatakan Indonesia tetap berkomitmen pada multilateralisme dan setiap upaya untuk memperkuat PBB.
"Tanpa PBB, kita bisa merasakan aman. Tanpa PBB, tidak ada negara yang merasa aman," katanya.
"Kita butuh PBB dan Indonesia akan terus mendukung PBB. Walau pun kita masih berjuang, kita tahu dunia butuh PBB yang kuat," tandas Presiden Prabowo.
Turut mendampingi Presiden Prabowo dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB kali ini adalah Menko Pangan Zulkifli Hassan, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri HAM Natalius Pigai, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
BACA JUGA:
Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-80 PBB tahun ini dimulai dengan pembukaan dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, serta Presiden Majelis Umum dari Jerman Annalena Baerbock.
Setelah pembukaan, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menjadi pembicara pertama, disusul Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Urutan berbicara pertama dan kedua mengikuti tradisi tidak tercatat.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto berbicara pada giliran ketiga, sebelum Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Peru Dina Ercilia Boluarte Zegarra.