Bagikan:

JAKARTA - Inggris mengatakan pengakuan Negara Palestina merupakan satu-satunya solusi untuk keamanan Israel, solusi yang layak dan adil dari konflik kedua pihak, namun pengakuan saja tidak cukup mengakhiri situasi memprihatinkan di Jalur Gaza.

Langkah untuk mengakui Negara Palestina dapat mendorong normalisasi hubungan Israel di kawasan tersebut, ujar seorang menteri Inggris kepada The National.

Menteri Timur Tengah dan Afrika Utara Inggris Hamish Falconer mengatakan, langkah bersejarah pengakuan kenegaraan Palestina ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengatasi ancaman terhadap solusi dua negara akibat perang yang dilancarkan Israel di Gaza.

Inggris ingin memastikan pergeseran kembali ke prinsip ini dapat meyakinkan Israel untuk membangun hubungannya dengan negara-negara tetangganya sehingga dapat berpartisipasi dalam keamanan regional, seperti hubungan yang telah terjalin di bawah Perjanjian Abraham.

Falconer mengatakan, jalan menuju perdamaian akan tetap terjaga berkat pengumuman pengakuan ini.

"Inggris akan terus bekerja sama dengan sekutu untuk mendukung Otoritas Palestina yang demokratis, mengatasi terorisme di kawasan, dan memajukan normalisasi penuh di Timur Tengah," ujarnya kepada The National, seperti dikutip 22 September.

Delegasi Inggris pada pertemuan Majelis Umum PBB di New York minggu ini akan mendesak rekan-rekannya mengenai kerangka kerja yang telah dikembangkan para diplomat untuk mengakhiri perang dan bergerak menuju solusi dua negara.

Perluasan Perjanjian Abraham tetap menjadi ambisi pemerintah Amerika Serikat, yang mengamankan pakta antara Israel, Uni Emirat Arab dan Bahrain selama masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump.

"Seperti yang telah berkali-kali dinyatakan oleh Inggris dan komunitas internasional, solusi dua negara tetap menjadi satu-satunya solusi yang layak dan adil untuk konflik ini," jelas Falconer.

"Ini adalah satu-satunya solusi dan akan memungkinkan Israel yang aman dan terjamin untuk hidup berdampingan dengan negara Palestina yang layak dan berdaulat," lanjutnya.

"Dengan solusi dua negara yang terancam, inilah saatnya untuk bertindak, menjaga jalan menuju perdamaian," jelas Falconer.

"Namun pengakuan saja tidak akan mengakhiri situasi yang memprihatinkan di Gaza. Kami terus menyerukan gencatan senjata segera, pembebasan semua sandera, dan pengiriman bantuan segera kepada mereka yang membutuhkannya," tandasnya.

"Inggris akan terus bekerja sama dengan sekutu untuk mendukung Otoritas Palestina yang demokratis, mengatasi terorisme di kawasan tersebut, dan memajukan normalisasi penuh di Timur Tengah," tambah Falconer.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengakuan Palestina dalam pesan video pada Hari Minggu, menyoroti perlunya menjaga harapan tetap hidup bagi solusi dua negara berdasarkan negosiasi penuh antara Israel dan Palestina.

Falconer telah membahas pergeseran dari model yang mendasari Proses Perdamaian Timur Tengah selama beberapa dekade, memperingatkan para ekstremis di kedua belah pihak menginginkan kemenangan total atas pihak lain, yang pada dasarnya satu negara dengan kendali penuh atas seluruh wilayah.

"Itu tidak akan berhasil, ada dua pihak di sana," katanya.

Sementara para pejabat Inggris telah mendesak perundingan dan gencatan senjata, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengintensifkan serangan militer. Falconer memperingatkan Israel "menolak langkah-langkah yang kami pikir perlu diambil".

Inggris sendiri mengantisipasi pembalasan Israel setelah pengumuman tersebut, dengan Falconer memperingatkan "situasi sudah semakin memburuk di Tepi Barat".