Bagikan:

JAKARTA - Inspektur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) kembali ke Iran setelah sempat keluar dari negara itu, namun bukan untuk melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklir Teheran.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengumumkan, inspektur dari IAEA telah kembali ke Iran menyusul keputusan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) untuk mengawasi proses pengisian bahan bakar di PLTN Bushehr.

Menlu Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara pada hari Rabu, menanggapi pernyataan pejabat IAEA tentang kembalinya para inspektur ke Iran.

Ia menekankan, belum ada kesepakatan akhir yang dicapai mengenai kerangka kerja sama baru dengan badan pengawas nuklir PBB tersebut.

"Berdasarkan undang-undang yang disahkan oleh Parlemen, kerja sama dengan IAEA tunduk pada keputusan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Oleh karena itu, semua permintaan dari Badan tersebut diajukan kepada SNSC," jelasnya, melansir IRNA 27 Agustus.

fasilitas nuklir iran
Fasilitas pengayaan uranium Iran. (Sumber: IRNA)

Menteri Luar Negeri Iran lebih lanjut menjelaskan, kehadiran inspektur IAEA diperlukan setelah keputusan untuk mengganti bahan bakar di PLTN Bushehr dibuat.

Diketahui, para inspektur IAEA meninggalkan Iran pada awal Juli setelah Teheran menangguhkan kerja sama, dengan alasan kegagalan Badan tersebut untuk mencegah atau mengutuk serangan terkoordinasi AS-Israel terhadap fasilitas nuklir damai Iran, yang menurut Teheran merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.

"Sekarang tim pertama inspektur IAEA telah kembali ke Iran dan kami akan segera memulai kembali," kata Direktur Jenderal Rafael Grossi kepada Fox News sebelumnya, dikutip dari The National.

"Soal Iran, seperti yang Anda ketahui, ada banyak fasilitas. Beberapa diserang, beberapa tidak," lanjutnya.

"Jadi kami sedang mendiskusikan jenis modalitas praktis apa yang dapat diterapkan untuk memfasilitasi dimulainya kembali pekerjaan kami di sana," tandas Grossi.

rafael grossi
Rafael Grossi dan Menlu Iran Araghchi. (Twitter/@rafaelmgrossi)

Menlu Araghchi mengklarifikasi, belum ada teks yang difinalisasi atau disetujui terkait kerja sama dengan IAEA.

Sebaliknya, ia mengatakan, kedua belah pihak telah bertukar pandangan, dan badan pengawas nuklir PBB telah menyampaikan komentar tertulis pada beberapa kesempatan.

"Wajar untuk bertukar pendapat tentang masalah apa pun untuk mencapai suatu kesimpulan," tambahnya.

Sebelumnya, wakil kepala IAEA Massimo Aparo mengunjungi Teheran pada 11 Agustus untuk pertama kalinya, sejak kerja sama ditangguhkan untuk mengadakan pembicaraan dengan pihak berwenang guna mencapai kesepakatan baru.

IAEA telah menyerukan agar inspeksi dilanjutkan setelah serangan, yang wajib diizinkan oleh Iran sebagai anggota perjanjian non-proliferasi nuklir global.

Pengumuman kembalinya tim inspektur ini muncul setelah para pejabat Iran bertemu dengan perwakilan dari tiga negara Eropa (E3) – Jerman, Inggris dan Prancis – di Jenewa. Negara-negara tersebut telah meminta Teheran untuk mengizinkan dimulainya kembali inspeksi.

"Telah diputuskan bahwa kontak antara kedua belah pihak akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei kepada TV pemerintah setelah pertemuan berakhir.

Pertemuan Hari Selasa merupakan putaran kedua perundingan dengan para diplomat Eropa sejak berakhirnya perang 12 hari, yang menggagalkan negosiasi antara Washington dan Teheran.