JAKARTA - Produsen bir Belanda, Heineken, menyambut baik kesepakatan dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat yang dikomandoi Presiden Donald Trump. Heineken kini mempertimbangkan semua opsi untuk menghadapi tantangan tarif yang semakin besar dalam jangka panjang, termasuk pengalihan manufaktur.
Saham produsen bir nomor dua dunia ini anjlok 6,5% meskipun melaporkan kenaikan laba semester pertama sebesar 7,4% yang melampaui perkiraan.
Kenaikan laba terjadi berkat pertumbuhan di kawasan-kawasan yang dulunya sulit seperti Afrika dan Asia serta penghematan biaya.
Para analis dan investor merujuk pada peringatan Heineken, volume akan lebih rendah dari yang diperkirakan hingga akhir tahun karena kebijakan AS, terutama di bidang perdagangan, mengganggu pasar di Amerika.
Perusahaan ini mengekspor bir, terutama lager yang menjadi nama perusahaan, ke AS dari Eropa dan Meksiko, dan juga mengalami dampak tidak langsung terhadap kepercayaan konsumen di pasar-pasar utama seperti Brasil.
CEO Dolf van den Brink menyambut baik kepastian yang dibawa oleh kesepakatan perdagangan yang dicapai pada hari Minggu, yang mengurangi ancaman tarif AS sebesar 30% untuk barang-barang Uni Eropa menjadi 15% - tarif yang masih akan memengaruhi keuntungan Heineken di AS.
“Semua opsi sedang dipertimbangkan untuk memitigasi tarif jangka panjang, termasuk mengalihkan manufaktur,” ujarnya dilansir Reuters, Senin, 28 Juli.
Tapi langkah-langkah tersebut dijelaskan CEO Heineken membutuhkan modal yang besar termasuk konsistensi kebijakan yang lebih baik.
"Kami mempertimbangkan semua opsi, mulai dari melanjutkan pengaturan kami saat ini, versi yang lebih hibrida, atau sebaliknya," ujarnya.
"Jika dan ketika kami menganggapnya lebih menarik secara finansial dalam jangka menengah hingga panjang, kami pasti akan menjajakinya,” sambungnya.
BACA JUGA:
Saat ini Heineken masih menghadapi tarif AS hingga 30% atas produk yang diproduksi di Meksiko, kecuali pemerintah Meksiko dapat mencapai kesepakatan dengan Washington sebelum batas waktu 1 Agustus.
Para eksekutif mengatakan kepada wartawan, sejak kuartal pertama, Heineken juga mengalami ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada pengeluaran dan kepercayaan di AS, Brasil, dan Meksiko.
Di Meksiko, remitansi dari AS telah turun secara signifikan, yang berdampak pada penjualan industri bir. Konsumen Hispanik AS juga mengurangi pengeluaran.
Heineken terus memperkirakan pertumbuhan laba tahunan antara 4% dan 8%.
Perusahaan juga melampaui proyeksi pendapatan dan volume kuartal kedua, dengan pertumbuhan di pasar seperti Vietnam dan India, serta meningkatkan target penghematan biaya tahunan sebesar seperempat menjadi 500 juta euro ($586 juta).
"Mereka telah sedikit menurunkan proyeksi volume mereka mengingat semua yang terjadi di dunia. Bagi saya, itu bukan hasil yang buruk," kata Ryann Dean, analis global di Aylett Fund Managers, investor Heineken.
Pertumbuhan Heineken yang kuat di pasar seperti India dan China, serta profitabilitas yang konsisten, lebih dari cukup untuk mengimbangi hal ini.
Menurut Dean, pasar negara berkembang akan mendorong pertumbuhan volume jangka panjang Heineken.