JAKARTA — Rencana pengalihfungsian Lapangan Sepak Bola Pilar di RW 03 Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menjadi arena padel memicu penolakan keras dari warga sekitar. Mereka menilai kehadiran padel bukan hanya mengancam ruang olahraga rakyat, tetapi juga mencerminkan ketimpangan dalam akses terhadap fasilitas publik.
“Padel itu olahraga kelas menengah ke atas. Bukan untuk rakyat seperti kami,” ujar Iskandar (45), warga RT 05 RW 03 dikutip dari ANTARA, Jumat, 25 Juli 2025.
Menurut Iskandar, lapangan bola tersebut sebagai satu-satunya ruang olahraga yang dimiliki warga. Alih fungsi lapangan menjadi arena padel akan memutus akses warga terhadap aktivitas fisik harian yang selama ini terbuka dan inklusif.
“Kalau ini dijadikan padel, terus kami olahraga di mana? Lapangan padel dekat sini juga sudah ada, kenapa harus ambil yang ini?” tambahnya.
Penolakan juga datang dari kalangan ibu-ibu. Herni (43), warga lainnya, menuturkan bahwa suaminya yang berprofesi sebagai pelatih sepak bola mengandalkan lapangan itu sebagai sumber penghasilan.
“Ini bukan cuma soal hiburan atau olahraga, tapi juga soal mata pencaharian. Kalau lapangan hilang, suami saya kerja apa?” katanya.
BACA JUGA:
Ia juga menyebutkan bahwa turnamen sepak bola lokal rutin digelar di lapangan tersebut, yang menjadi ajang kumpul dan hiburan tahunan bagi warga RW 03.
Pantauan di lokasi pada Kamis sore menunjukkan aktivitas warga yang masih berlangsung di lapangan. Di sisi luar tembok lapangan, sejumlah mural penolakan menghiasi dinding.
Tulisan seperti “Padel is not my style,” “Olahraga bukan hanya milik si kaya,” dan “Rakyat kecil butuh ruang bersenang-senang” menjadi ekspresi keresahan warga atas proyek yang dianggap tidak berpihak pada kebutuhan komunitas.
Di lapangan, spanduk-spanduk penolakan telah dipasang sebagai bentuk perlawanan warga terhadap proyek yang mereka nilai elitis dan mengabaikan aspirasi komunitas lokal.