Bagikan:

JAKARTA - Iran direncanakan menggelar perundingan nuklir dengan Inggris, Prancis dan Jerman di Istanbul, Turki pada Jumat pekan ini, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Senin pagi.

Rencana perundingan ini menyusul peringatan dari ketiga negara Eropa (E3) itu, kegagalan untuk melanjutkan perundingan akan mengakibatkan sanksi internasional diberlakukan kembali terhadap Iran.

"Pertemuan antara Iran, Inggris, Prancis, dan Jerman akan berlangsung di tingkat wakil menteri luar negeri," kata Esmaeil Baghaei seperti dikutip oleh media pemerintah Iran, melansir Reuters 21 Juli.

Perundingan yang dijadwalkan ini terjadi setelah para menteri luar negeri dari negara-negara E3 serta Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, melakukan panggilan telepon pertama mereka pada Hari Kamis pekan lalu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sejak Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir Iran sebulan yang lalu.

Ketiga negara Eropa tersebut, bersama dengan Tiongkok dan Rusia, adalah pihak-pihak yang tersisa dalam perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) yang dicapai dengan Iran, ditinggalkan Amerika Serikat pada tahun 2018 di bawah Presiden Donald Trump, yang mencabut sanksi terhadap negara Timur Tengah tersebut dengan imbalan pembatasan program nuklirnya.

E3 telah menyatakan akan memulihkan sanksi PBB terhadap Teheran melalui "mekanisme snapback" pada akhir Agustus jika perundingan nuklir yang sedang berlangsung antara Iran dan AS sebelum perang udara Israel-Iran tidak dilanjutkan atau gagal menghasilkan hasil nyata.

"Jika EU/E3 ingin berperan, mereka harus bertindak secara bertanggung jawab, dan mengesampingkan kebijakan ancaman dan tekanan yang sudah usang, termasuk 'snapback' yang sama sekali tidak memiliki dasar moral dan hukum," ujar Menlu Araghchi awal pekan ini.

Mekanisme snapback dapat digunakan untuk memulihkan sanksi PBB sebelum resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengesahkan kesepakatan tersebut berakhir pada 18 Oktober.

Sebelum perang Israel-Iran, Teheran dan Washington mengadakan lima putaran perundingan nuklir yang dimediasi oleh Oman, tetapi menghadapi hambatan besar seperti pengayaan uranium di Iran, yang ingin dikurangi oleh negara-negara Barat hingga nol untuk meminimalkan risiko persenjataan.

Di sisi lain, Teheran menegaskan program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk tujuan sipil dan damai.