Bagikan:

JAKARTA - Delapan orang tewas dan lebih dari 20 orang hilang setelah Sungai Bhote Koshi meluap, menghanyutkan "Jembatan Persahabatan" yang menghubungkan China dan Nepal.

Tidak ada hujan lebat di daerah sekitar sungai dalam 24 jam sebelumnya, tetapi para ahli prakiraan cuaca mengatakan banjir tersebut mungkin disebabkan oleh meluapnya danau glasial di Tibet, lokasi hujan deras turun.

Polisi menemukan delapan jenazah, namun belum ada satu pun yang teridentifikasi sejauh ini, kata juru bicara Kepolisian Nepal Binod Ghimire kepada Reuters, Selasa, 8 Juli.

Ia mengatakan 57 orang berhasil diselamatkan. Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlanjut, kata juru bicara Angkatan Darat Nepal Raja Ram Basnet.

Dilapoorkan 20 orang hilang di Nepal, sementara kantor berita resmi China Xinhua mengatakan 11 orang tidak diketahui keberadaannya di wilayah China di wilayah perbatasan pegunungan tersebut.

Perdagangan antara Nepal dan China terganggu karena hancurnya jembatan tersebut, kata para pejabat.

Di Nepal, yang hilang termasuk enam pekerja China dan tiga personel polisi, kata Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMA) pada X.

Warga negara China yang hilang itu bekerja di Depot Kontainer Darat yang sedang dibangun dengan bantuan China sekitar 80 km (50 mil) di utara ibu kota Kathmandu, kata Arjun Paudel, pejabat administratif senior distrik Rasuwa.

"Sungai itu juga menyapu beberapa kontainer berisi barang-barang yang diimpor dari China. Ada kerugian besar (atas properti) dan kami sedang mengumpulkan rinciannya," katanya kepada Reuters.

Sementara di Pakistan, tercatat 79 orang termasuk 38 anak-anak, meninggal dunia akibat banjir dan insiden terkait hujan, termasuk tanah longsor dan rumah runtuh, sejak 26 Juni, menurut Otoritas Manajemen Bencana Nasional pada hari Selasa.

Otoritas tersebut mengeluarkan peringatan baru untuk banjir bandang dan luapan danau glasial di provinsi utara dan barat laut Gilgit-Baltistan dan Khyber Pakhtunkhwa, dengan alasan kenaikan suhu yang signifikan dan sistem cuaca yang akan datang.

China telah meningkatkan investasinya di Nepal dalam beberapa tahun terakhir di berbagai bidang termasuk jalan raya, pembangkit listrik, dan rumah sakit.

Raksasa Asia itu telah dilanda hujan lebat dan banjir bandang selama beberapa hari terakhir yang telah meninggalkan jejak kerusakan, dan bersiap menghadapi badai tropis minggu ini. Departemen prakiraan cuaca Nepal mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Sentinel Asia - inisiatif internasional yang menggunakan teknologi berbasis luar angkasa untuk mendukung penanggulangan bencana di kawasan Asia-Pasifik - untuk menentukan penyebab banjir.