JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan tidak ada ruang negosiasi dengan Amerika Serikat. Terkini, Presiden Donald Trump menimbang dalam waktu dua pekan untuk memutuskan keterlibatan AS dalam serangan ke Iran.
"Tidak ada ruang untuk negosiasi dengan AS sampai agresi Israel berhenti," kata Araghchi dikutip dari TV pemerintah Iran pada Jumat, 20 Juni.
Para menteri luar negeri Eropa bertemu dengan Menlu Iran pada Jumat, untuk mencari jalan kembali ke jalur diplomasi atas program nuklirnya yang disengketakan meskipun AS mempertimbangkan untuk bergabung dengan serangan Israel terhadap Iran.
Para menteri dari Inggris, Prancis, dan Jerman, yang dikenal sebagai E3, ditambah kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa berbicara kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk menyetujui pertemuan tersebut awal pekan ini dan telah berkoordinasi dengan Amerika Serikat.
"Iran tidak bisa duduk bersama Amerika, sedangkan kami bisa," kata seorang diplomat Eropa dilansir Reuters.
"Kami akan meminta mereka untuk kembali ke meja perundingan guna membahas masalah nuklir sebelum skenario terburuk terjadi, sambil menyampaikan kekhawatiran kami atas rudal balistiknya, dukungannya kepada Rusia, dan penahanan warga negara kami,” sambungnya.
Perundingan tersebut dijadwalkan pada Jumat sore di Jenewa, tempat kesepakatan awal antara Iran dan negara-negara besar dunia untuk mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi dicapai pada tahun 2013 sebelum kesepakatan komprehensif pada tahun 2015.
Perundingan terpisah antara Iran dan AS gagal ketika Israel melancarkan apa yang disebutnya Operasi Rising Lion terhadap fasilitas nuklir dan kemampuan balistik Iran pada tanggal 12 Juni.
BACA JUGA:
Diberitakan sebelumnya, Presiden Donald Trump akan memutuskan dalam dua minggu ke depan apakah Amerika Serikat (AS) akan terlibat dalam perang udara Israel-Iran.
"Berdasarkan fakta bahwa ada kemungkinan besar negosiasi yang mungkin atau mungkin tidak terjadi dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan pergi dalam dua minggu ke depan atau tidak,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dilansir Reuters, Jumat, 20 Juni.
Leavitt mengatakan dalam pengarahan rutin di Gedung Putih, Trump tertarik untuk mengupayakan solusi diplomatik dengan Iran, tetapi prioritas utamanya adalah memastikan Iran tidak dapat memperoleh senjata nuklir.
Dia mengatakan kesepakatan apa pun harus melarang pengayaan uranium oleh Teheran dan menghilangkan kemampuan Iran untuk memperoleh senjata nuklir.
"Presiden selalu tertarik pada solusi diplomatik, jika ada peluang untuk diplomasi, presiden akan selalu memanfaatkannya," kata Leavitt.
"Tetapi dia juga tidak takut untuk menggunakan kekuatan,” imbuhnya.
Posisi Trump membuat dunia bertanya-tanya tentang rencananya, beralih dari mengusulkan solusi diplomatik yang cepat menjadi menyarankan AS mungkin bergabung dalam pertempuran di pihak Israel.