JAKARTA - Israel mendeportasi aktivis kemanusiaan yang berada di Kapal Madleen yang coba menerobos blokade terhadap Jalur Gaza, Palestina, namun upayanya dicegat oleh militer Israel pada Hari Senin.
Greta Thunberg bersama 11 aktivis lainnya yang berada di Kapal Madleen dibawa ke Pelabuhan Ashdod, Israel, sebelum dideportasi hari ini.
Kementerian Luar Negeri Israel dalam unggahannya di media sosial X Hari Selasa mengunggah Greta tengah berada di pesawat menuju Prancis untuk kemudian membawanya ke negara asalnya, Swedia, dikutip dari The Times of Israel 10 Juni.
Foto-foto yang dibagikan oleh Kementerian Luar Negeri menunjukkan wanita berusia 22 tahun itu duduk di kursi lorong dekat kamar mandi sambil menunggu lepas landas.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengatakan salah satu warga negara Prancis di atas Kapal Madleen menandatangani formulir deportasi Israel dan akan kembali ke Prancis hari ini.
Greta Thunberg just departed Israel on a flight to Sweden (via France). pic.twitter.com/kWrI9KVoqX
— Israel Foreign Ministry (@IsraelMFA) June 10, 2025
Kendati demikian, Menlu Barrot tidak menyebutkan nama aktivis yang telah setuju untuk pergi secara sukarela.
Lima warga negara Prancis lainnya yang berada di atas kapal menolak untuk menandatangani formulir deportasi, kata Menlu Barrot.
Para aktivis berada di pusat penahanan di Ramle, dekat bandara. Pejabat konsulat Prancis menghubungi keluarga para tahanan pada malam hari, setelah mengunjungi para aktivis.
Sementara itu, media Israel mengatakan empat dari 12 aktivis, termasuk Greta setuju untuk menandatangani dokumen keberangkatan sukarela, seperti melansir WAFA.
Namun, delapan aktivis lainnya menolak untuk menandatangani dokumen tersebut, termasuk Rima Hassan, anggota Parlemen Eropa asal Prancis, yang sebelumnya telah dideportasi dari negara tersebut setibanya di Bandara Ben Gurion.
Para aktivis yang menolak ditahan di Pusat Givon untuk penduduk (ilegal) - menurut klaim Israel - selama 96 jam. Setelah periode ini, mereka akan dideportasi dengan atau tanpa persetujuan mereka.
BACA JUGA:
Israel diketahui telah melakukan blokade terhadap Jalur Gaza sejak 2 Maret lalu, langkah yang diklaim untuk menekan kelompok Hamas agar menerima kesepakatan gencatan senjata dan sandera.
Selain itu, Israel telah memberlakukan blokade laut di daerah kantong Palestina tersebut sejak Hamas menguasai Gaza pada tahun 2007. Israel mengatakan itu bertujuan untuk menghentikan senjata agar tidak sampai ke Hamas, dikutip dari Reuters.
Blokade tersebut tetap berlaku selama konflik berlangsung, termasuk perang saat ini, yang dimulai ketika militan Palestina yang dipimpin menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023.