Bagikan:

YOGYAKARTA - Ideologi terbuka menawarkan fleksibilitas dan adaptabilitas yang menjadikannya fondasi negara yang dinamis. Lantas apa saja ciri khas ideologi terbuka?

Artikel ini akan mengupas lebih dalam mengenai ciri khas yang melekat pada ideologi terbuka sebagai landasan kokoh bagi sebuah negara dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Ciri Khas Ideologi Terbuka

Dilansir dari Jurnal Justisia. Vol. 3 No. 9, Juni 2017, ideologi terbuka memiliki karakteristik unik, yaitu nilai dan cita-citanya bersumber langsung dari kedalaman spiritual, moral, serta kekayaan budaya masyarakatnya.

Landasan ideologi terbuka  terbangun dari konsensus atau kesepakatan bersama dalam masyarakat, bukan merupakan produk rekayasa negara, melainkan inheren dan ditemukan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, ideologi terbuka menjadi kepunyaan seluruh elemen bangsa, di mana setiap individu dapat merefleksikan dirinya. Keberadaan ideologi terbuka bukan sekadar dapat diterima, tetapi juga esensial.

Dapat disimpulkan jika sebuah ideologi yang autentik dan relevan akan berakar pada pandangan hidup serta filosofi bangsa, sehingga mampu bertransformasi seiring dengan kemajuan masyarakat dan intelektualitas bangsa.

Baca juga artikel yang membahas Penyebab Post Power Syndrom dan Dampak Kesehatan yang Menghantuinya

Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Pancasila, sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia, memiliki akar yang unik. Perlu diketahui Pancasila tidak lahir dari pemikiran individual atau kelompok tertentu, seperti halnya ideologi-ideologi lain di dunia.

Dilansir dari paper karya A. Aco Agus, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar, pancasila bersumber dari nilai-nilai luhur yang telah hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia jauh sebelum negara ini terbentuk.

Nilai-nilai adat istiadat, kekayaan budaya, serta nilai-nilai religius yang menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia menjadi fondasi utama pembentukan Pancasila.

Agar tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman, Agus menjelaskan jika sebuah ideologi perlu menjalin hubungan yang dinamis dengan masyarakat dan bangsanya.

Dengan demikian, ideologi akan bersifat terbuka dan antisipatif, bahkan memiliki kemampuan untuk melakukan reformasi diri dalam merespons perubahan sesuai dengan aspirasi rakyatnya.

Oleh karena itu, agar ideologi dapat secara efektif menampung aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sifat dinamis dan terbuka menjadi suatu keniscayaan.

Tantangan Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Berbagai elemen, baik dari luar maupun dari dalam negeri, turut memengaruhi tantangan yang dihadapi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Terdapat faktor-faktor eksternal yang berperan antara lain:

  • Semakin kuatnya pengaruh budaya global, yang ditandai dengan masuknya beragam ideologi asing ke dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara akibat arus informasi yang terbuka lebar.
  • Meningkatnya keperluan global seiring pertumbuhan populasi dan perkembangan teknologi, yang mendorong eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Konsekuensi nyata dari hal ini adalah kerusakan lingkungan, seperti banjir dan kebakaran hutan.

Sementara itu, faktor-faktor internal yang berkontribusi terhadap tantangan Pancasila meliputi:

  • Pergantian pemerintahan yang berkuasa sering kali menghasilkan kebijakan politik yang lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau partai tertentu, sehingga nilai-nilai Pancasila kerap kali terpinggirkan.
  • Praktik korupsi yang merajalela menyebabkan menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa, yang pada akhirnya juga berdampak pada merosotnya keyakinan terhadap ideologi negara.

Selain ciri khas ideologi terbuka, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari VOI dan follow semua akun sosial medianya! 

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+