JAKARTA - Pemerintah kembali membuka pendaftaran Dana Indonesiana 2025, dengan alokasi dana sebesar Rp465 miliar. Program yang dikelola Kementerian Kebudayaan bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini menjadi salah satu instrumen utama dalam memperkuat pemajuan kebudayaan nasional secara berkelanjutan.
Dana Indosiana resmi diluncurkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Graha Utama, Gedung A Lantai 3, Kementerian Kebudayaan, Senin, 5 Mei. Dalam acara tersebut, Fadli menegaskan pentingnya Dana Indonesiana sebagai bukti hadirnya negara dalam mendukung pelestarian dan inovasi budaya.
“Tanpa dukungan dana publik, banyak praktik budaya lokal bisa terpinggirkan bahkan hilang. Dana Indonesiana hadir sebagai komitmen negara untuk menjaga warisan, sekaligus mendorong inovasi budaya,” ujar Fadli.
Tahun ini, Dana Indonesiana menargetkan lebih dari 1.000 penerima manfaat, mencakup individu, komunitas, dan lembaga budaya. Dana disalurkan dari hasil pengelolaan Dana Abadi Kebudayaan, yang kini telah mencapai Rp5 triliun sejak pertama kali digulirkan pada 2021.
Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto menyebut nilai pokok dana terus bertumbuh melalui strategi investasi yang hati-hati dan berkelanjutan. “Kami ingin Dana Abadi ini tidak hanya besar secara nominal, tetapi berdampak nyata lewat program-program yang inovatif dan inklusif,” ujarnya.
BACA JUGA:
11 Kategori Pendanaan Dana Indonesiana 2025
Program Dana Indonesiana tahun ini mencakup 11 skema bantuan yang menjangkau beragam kebutuhan pelaku budaya, antara lain:
1. Pendayagunaan Ruang Publik
2. Penciptaan Karya Kreatif Inovatif
3. Sinema Indonesia
4. Dokumentasi Karya Maestro
5. Dukungan Institusional
6. Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan
7. Dana Pendamping Distribusi Internasional
8. Interaksi Budaya
9. Kewirausahaan Budaya
10. Restorasi Artefak
11. Sustainable Cultural Heritage
Pendaftaran dilakukan secara daring melalui laman resmi: https://danaindonesiana.kemenbud.go.id. Proses seleksi dilakukan oleh tim independen yang terdiri dari para ahli kebudayaan lintas bidang.
Dampak Nyata Dana Indonesiana
Seno Joko Suyono dari Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), penerima Dana Indonesiana 2023 dan 2024, menyebut program ini mengubah wajah festival yang dikelolanya. “Kami bisa mewujudkan format moving festival, berpindah dari kota ke kota, memaksimalkan potensi situs-situs warisan budaya lokal,” ungkap Seno.
Kementerian Kebudayaan bertindak sebagai manajer substansi program, mulai dari sosialisasi, seleksi hingga penetapan penerima manfaat. Sementara LPDP bertanggung jawab atas aspek keuangan dan penyaluran dana.
Peluncuran Dana Indonesiana 2025 juga dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Direktur Keuangan dan Umum LPDP Emannuel Agust Hartono, serta budayawan DKI Jakarta, Eki Pitung.
Di ujung sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan adalah tanggung jawab kolektif. “Kebudayaan bukan milik satu golongan. Ini milik semua. Dana Indonesiana harus jadi instrumen bersama. Setiap rupiahnya harus berdampak,” kata dia.
Kementerian Kebudayaan mengajak seluruh pelaku budaya untuk memanfaatkan Dana Indonesiana sebagai peluang membangun ekosistem budaya yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.