Bagikan:

JAKARTA - Para sopir truk kontainer yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) mendesak agar Direktur Utama (Dirut) PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Persero mundur dari jabatan. Hal ini menanggapi kemacetan panjang yang terjadi di kawasan Tanjung Priok sejak 16-18 April.

"Dalam merespon berbagai macam persoalan maka kami Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia-Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia-Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia KPBI-FBTPI-SBTPI akan melanjutkan perjuangan mendesak Pelindo agar segera melakukan pembenahan secara serius berikan keadilan kepada para buruh sopir dan warga Jakarta Utara. Tuntutan pecat Dirut Pelindo, pecat Dirut MTI, dan pecat Dirut NPCT1," kata Sekjen FBTPI Muhammad Arira Fitra dalam keterangannya, Minggu, 20 April.

Tuntutan lainnya, mereka meminta agar dilakukan pembongkaran gerbang Multi Terminal Indonesia atau Gerbang Umum MTI di Pelabuhan Tanjung Priok serta menghapus kebijakan gerbang masuk (gate pass) yang berbayar

Pada 11 Februari yang lalu, para sopir truk kontainer pernah mengeluhkan persoalan biaya masuk pelabuhan (gate pass), pemberantasan pungutan liar (pungli), perbaikan sistem operasi pelabuhan, perbaikan dan pengadaan fasilitas, serta kemacetan.

"Masih terang dalam ingatan kita, begitu ramai menjadi perbincangan publik kemacetan horor Tanjung Priok, kejadian ini sebenarnya menjadi permasalahan tradisional yang tidak pernah diselesaikan secara serius oleh Pelindo," ungkap Arira.

"Keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok kini bukan membawa kabar gembira bagi maasyarakat tetapi membawa kabar duka yang selalu menghantui masyarakat. Pengelolaan yang ugal-ugalan, tidak professional dan jauh dari azas keadilan bagi seluruh rakyat, terpampang jelas dari pengelolaan kuota kontainer yang seharusnya 2.500 per hari dipaksakan menjadi 7.000 per hari," lanjut dia.

Di satu sisi, Arira juga mengungkapkan biang kerok kemacetan yang terjadi baru-baru ini di Tanjung Priok. Berdasarkan investigasi mereka, penyebab kemacetan terjadi karena jumlah alat yang masih sangat terbatas, sistem yang sering eror dan gerbang umum milik MTI yang sebenarnya tidak efektif penggunaannya.

"Gate MTI merupakan common gate rencananya akan mengatur mobil yang akan menuju ke NPCT1, NPCT2, dan NPCT3, sedangkan sekarang NPCT2 dan NPCT3 belum beroperasi. Di sisi lain, Common Gate MTI keberadaannya di dekat jalan raya sehingga Common Gate MTI menyebabkan kemacetan sampai ke jalan raya," jelasnya.

Kronologi Macet Panjang di Tanjung Priok

Kemacetan panjang terjadi di Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, arah Pelabuhan Tanjung Priok pada Kamis, 17 April pagi. Polisi menyebut kepadatan tersebut disebabkan oleh tingginya aktivitas bongkar muat di pelabuhan.

"Kemacetan disebabkan adanya aktivitas bongkar muat tinggi," ujar Kasat Lantas Polres Jakarta Utara, AKBP Donni Bagus Wibisono, mengutip ANTARA.

Menurut Donni, titik kemacetan terjadi di beberapa lokasi, di antaranya mulai dari Pos 9 Pelabuhan Tanjung Priok hingga depan NPCT 1. Arus kendaraan didominasi oleh truk-truk besar yang hendak masuk ke area pelabuhan.

Sementara itu, Pelindo juga buka suara mengenai kemacetan panjang tersebut. Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Adi Sugiri mengatakan terjadi peningkatan arus barang petikemas yang akan melakukan kegiatan receiving delivery petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Hal ini bersamaan dengan selesainya masa arus mudik lebaran dan paska pembatasan lalu lintas barang. Kata Adi, tidak terdapat hambatan yang terjadi akibat dari sistem eror, baik di Gate Pelabuhan maupun di Terminal Petikemas Pelabuhan Priok dan dipastikan bahwa kegiatan bongkar muat kapal berjalan lancar tanpa ada kendala.

Lebih lanjut, Adi bilang untuk Terminal NPCT 1 peningkatan volume terjadi 100 persen dari jumlah truk yang masuk ke dalam terminal. Di mana secara rata–rata jumlah yang masuk kurang dari 2.500 truk.