Bagikan:

JAKARTA - Bumi Papua diberkahi dengan banyak keanekaragaman hayati termasuk dari berbagai satwa atau fauna endemik. Salah satunya adalah kura-kura moncong babi yang juga merupakan hewan dilindungi di Indonesia.

Berbagai upaya pun dilakukan untuk mencegah agar kura-kura moncong babi tidak punah dan bisa dilihat oleh generasi-generasi seterusnya. Sebagai aksi nyata untuk mendukung upaya tersebut, TSE Group bersama-sama dengan IPB melakukan proyek konservasi satwa endemik Papua.

Sekilas Tentang TSE Group

Tunas Sawa Erma (TSE) Group adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkantor pusat di Boven Digoel, Papua. Perusahaan berkomitmen untuk terus mempraktikkan tata kelola usaha dan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Melalui berbagai proyek inovasi, TSE mendukung upaya pemerintah dalam melindungi dan memelihara kekayaan alam di Bumi Cenderawasih. TSE ikut ambil bagian dengan proyek konservasi spesies endemik Papua yang bekerja sama dengan IPB University.

TSE dan IPB University saat ini bekerja di wilayah selatan Papua untuk melakukan serangkaian pengamatan dan penelitian terhadap pergerakan kura-kura moncong babi. Apa saja peran TSE dalam proyek pelestarian spesies endemik Papua ini?

1. Menyediakan Peralatan Konservasi

Salah satu peran TSE Group dalam proyek konservasi adalah menyediakan peralatan yang dibutuhkan oleh tim peneliti dalam mengamati satwa. Seperti alat GPS yang digunakan untuk memantau pergerakan hewan dan jangkauan kura-kura moncong babi di Sungai Kao dan Muyu.

2. Menyediakan Biaya dan Akomodasi

TSE juga menyediakan akomodasi untuk tim peneliti dari IPB University yang terlibat dalam proyek konservasi satwa ini. Memastikan tim mendapatkan fasilitas akomodasi yang aman dan nyaman untuk kelancaran proyek.

3. Menyediakan Transportasi

Kebutuhan transportasi untuk tim yang terlibat juga disediakan oleh TSE. Transportasi untuk memudakan tim menuju tempat penelitian dan lainnya selama menjalankan misi besar ini.

Kura-Kura Moncong Babi

Kura-kura moncong babi (Carrettochelys Insculpta) adalah hewan endemik yang hanya ditemukan di Papua Selatan, seperti Asmat, Merauke, Mappi, dan Boven Digoel. Di habitat aslinya, hewan ini sering diburu untuk diperjualbelikan bahkan diselundupkan secara ilegal ke luar negeri.

Tidak sedikit kasus penyelundupan kura-kura moncong babi, terutama yang masih dalam tahap tukik. Negara tujuan terbesar dari perdagangan hewan ilegal ini antara lain Hongkong dan Taiwan. Permintaan yang tinggi biasanya terkait khasiat daging kura-kura yang dipercaya sebagai obat kuat hingga penggunaan untuk bahan kosmetik.

Sedangkan masyarakat sekitar juga seringkali mengambil telur-telurnya untuk konsumsi. Beberapa faktor tersebut yang berpotensi mengancam keberlangsungan kura-kura moncong babi di alam liar, terutama di ekosistem air tawar.

Kura-kura moncong babi memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati yang ada di habitat asli mereka. Oleh sebab itu, konservasi Papua seperti proyek TSE dan IPB adalah langkah penting yang perlu dilakukan.

Jika perburuan terus terjadi tanpa kontrol yang ketat, bukan tidak mungkin hewan ini bisa punah dalam belasan atau beberapa tahun ke depan. Kura-kura moncong babi sudah diklasifikasikan sebagai hewan terancam punah berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation Nature and Natural Resource).

TSE Group dan IPB sepakat untuk bekerja sama dalam proyek konservasi lima tahun yang dimulai sejak tahun 2022 hingga tahun 2026 mendatang. Tim IPB yang terjun langsung ke lapangan dan TSE yang membantu menyediakan peralatan, akomodasi, dan transportasi.

Dukungan TSE Group tentu sangat membantu bagi para tim peneliti IPB dalam setiap proses penelitian dan konservasi. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas kura-kura moncong babi di alam liar.