Bagikan:

JAKARTA - RE:HARVEST, bekerja sama dengan P4G (Partnering for Green Growth and the Global Goals), ASEIC, dan PT Multi Bintang Indonesia TBK, menyelenggarakan Seminar Daur Ulang Makanan di Jakarta pada 14-15 Februari, yang bertujuan untuk memajukan praktik pangan berkelanjutan dan mengurangi sampah makanan. Acara yang diadakan di SOTEN – Japanese Charcoal Grill ini mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan pendukung keberlanjutan untuk membahas pendekatan inovatif terhadap pengelolaan sampah makanan dan mitigasi emisi karbon dengan mendaur ulang produk sampingan bir menjadi bahan makanan yang kaya nutrisi.

Seminar ini merupakan bagian dari Proyek Pengurangan Kehilangan dan Sampah Makanan yang didanai P4G, yang mengeksplorasi solusi praktis untuk memanfaatkan kembali sampah makanan. Salah satu sorotan utama adalah transformasi Brewers’ Spent Grain (BSG) menjadi RE:NERGY POWDER, bubuk bernutrisi tinggi yang dikembangkan oleh RE:HARVEST (Korea Selatan) bermitra dengan PT Multi Bintang Indonesia TBK. Inisiatif ini dipandang sebagai langkah maju untuk mendefinisikan ulang pendekatan Indonesia terhadap limbah makanan dan model ekonomi sirkular.

Sorotan Seminar dan Poin Penting

Acara ini menampilkan diskusi mendalam, demonstrasi langsung, dan sesi interaktif yang memperkuat potensi daur ulang makanan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mempromosikan ekonomi sirkular. Beberapa momen penting meliputi:

• Sambutan Pembukaan oleh RE:HARVEST, yang menekankan urgensi pengurangan limbah makanan dan solusi pangan berkelanjutan.

• Presentasi Berwawasan dari P4G, ASEIC, dan PT Multi Bintang Indonesia TBK yang menyoroti dampak terukur proyek tersebut pada lanskap keberlanjutan pangan Indonesia. • Diskusi Panel dengan perwakilan dari BAPPENAS (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional), BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Kementerian UMKM, dan Misi Republik Korea untuk ASEAN, membahas kerangka regulasi untuk produk makanan daur ulang di Indonesia.

• ​​Demonstrasi langsung menunjukkan bagaimana bubuk daur ulang RE:HARVEST dapat digunakan dalam berbagai hidangan, yang menekankan potensi pasarnya.

• Pengalaman Bersantap Terkurasi, di mana para tamu mencicipi resep makanan daur ulang yang disiapkan bekerja sama dengan tim kuliner SOTEN.

• Sesi Jejaring, memfasilitasi kemitraan penting antara pelaku industri, pejabat pemerintah, dan pakar keberlanjutan.

Dampak dan Penerimaan Industri

Seminar ini menarik partisipasi dari BAPPENAS, BPOM, IBCSD, UMKM, Yayasan Energy Berish, KJPP ASR, Green Business Center (GBC), dan pelaku industri makanan utama, yang menyoroti dukungan kelembagaan yang kuat untuk inisiatif daur ulang makanan.

“Kami sangat senang dengan antusiasme dan komitmen yang ditunjukkan oleh semua peserta. Dukungan dan keterlibatan yang luar biasa pada seminar ini menggarisbawahi permintaan yang terus meningkat akan solusi pangan berkelanjutan di Indonesia,” kata Alexander Myoung Joon Min, CEO & Co-Founder RE:HARVEST.

Melihat ke Depan: Langkah Berikutnya untuk Daur Ulang Pangan di Indonesia

Setelah seminar ini sukses, RE:HARVEST dan mitranya kini berfokus pada:

• Meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan produk pangan daur ulang yang terus meningkat di Indonesia.

• ​​Memperkuat kolaborasi regulasi dengan lembaga pemerintah utama untuk memfasilitasi kerangka kebijakan bagi pangan daur ulang.

• Memperluas inisiatif keterlibatan konsumen, termasuk kampanye kesadaran, kolaborasi influencer, dan lokakarya memasak langsung.

• Mengejar peluang investasi, dengan target untuk mengumpulkan USD 2,6 juta guna lebih mengomersialkan solusi pangan daur ulang.

"Indonesia berpotensi memimpin gerakan daur ulang pangan di Asia," kata Alexander Myoung Joon Min, CEO & Co-Founder RE:HARVEST. "Melalui kolaborasi industri dan kesadaran konsumen, kami bertujuan untuk membuat makanan berkelanjutan lebih mudah diakses dan diadopsi secara luas."