JAKARTA - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, meminta pihak sekolah dan Perbasi Kota Bogor tidak menutup-nutupi kejadian pemukulan yang terjadi dalam turnamen basket di Bogor. Menurut Sahroni, tindakan kekerasan tersebut sudah jelas merupakan bullying yang tidak bisa dianggap remeh.
Adapun kasus ini melibatkan seorang siswa berinisial RC dari SMP Mardiwaluya Cibinong yang melakukan pemukulan terhadap siswa SMPN 1 Bogor, berinisial S, dalam pertandingan yang berlangsung di Kota Bogor.
"Saya minta baik itu pihak sekolah maupun Perbasi, tidak ada satu pun yang berusaha menutupi atau melindungi pelaku,” ujar Sahroni, dalam keterangannya, Sabtu, 22 Februari.
Meski korban tidak merasa dirugikan, lanjut Sahroni, kasus ini dapat diproses secara hukum. Dia pun mengajak seluruh stakeholder di bidang olahraga untuk melakukan evaluasi guna menciptakan lingkungan kompetisi yang aman dan bebas dari kekerasan, termasuk wasit, asosiasi, orang tua, dan sekolah.
Sahroni juga mengingatkan pentingnya pembinaan karakter bagi calon atlet untuk memastikan mereka memahami pentingnya sportivitas dan bahaya tindakan arogan dalam pertandingan.
BACA JUGA:
Legislator NasDem dapil Jakarta itu berharap pihak kepolisian dapat turun tangan untuk memediasi kasus ini melalui mekanisme restorative justice.
"Dan polisi juga bisa turun tangan memediasi kedua belah pihak, diselesaikan lewat restorative justice saja. Dengan catatan, ini tindak kekerasan terakhir yang dilakukan pelaku. Baik dalam dunia olahraga ataupun di luar,” kata Sahroni.
Pihak Perbasi Kota Bogor telah mendiskualifikasi RC dari turnamen tersebut dan memasukkan namanya dalam daftar hitam, sehingga ia dilarang mengikuti kompetisi basket di Kota Bogor.