JAKARTA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan proposal Amerika Serikat untuk kesepakatan mineral tidak adil karena tidak mencakup jaminan keamanan. Zelenskiy tak ingin Ukraina menjadi pusat bahan mentah.
Pekan lalu Kyiv mengirimkan rancangan perjanjian yang telah direvisi yang dapat membuka sumber daya mineral penting yang sangat besar bagi investasi AS guna membantu mendapatkan dukungan AS, di tengah kekhawatiran di Kyiv mengenai proposal versi AS sebelumnya.
"Saya katakan 'dokumen ini belum siap, kami tidak akan menandatanganinya. Anda terus mengerjakan dokumen ini," kata Zelenskiy seperti dikutip beberapa media Turki usai pembicaraan di Ankara dilansir Reuters, Rabu, 20 Februari.
“Saya selalu terbuka bagi Anda untuk berinvestasi di negara kami, pada sumber daya alam kami. Namun jika kami ingin memberikan sesuatu, kami harus menerima sesuatu,” kata Presiden Ukraina seperti dikutip oleh kantor berita milik negara Anadolu.
“Kami tidak ingin menjadi pusat bahan mentah bagi benua mana pu,” tegasnya.
Zelenskiy telah menguraikan garis besar kesepakatan itu dalam wawancara dengan Reuters bulan ini. Mineral yang dimaksud mencakup varietas tanah jarang, serta titanium, uranium, dan litium.
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia menginginkan mineral tanah jarang senilai 500 miliar dollar AS dari Kyiv dan dukungan Washington perlu “diamankan”.
Kunjungan Zelenskiy ke Ankara bertepatan dengan pertemuan antara pejabat AS dan Rusia di Riyadh, tanpa orang Ukraina, mengenai perang di Ukraina.
BACA JUGA:
Zelenskiy mengatakan dia yakin Ukraina mendapat dukungan di Washington namun dia ingin melihat lebih banyak dukungan dari Trump.
"Kami melihat (AS) telah menyingkirkan Putin dari isolasi politiknya, tapi itu adalah keputusan mereka sendiri. Namun ketika Anda mengatakan 'ini adalah rencana kami untuk mengakhiri perang', ini menimbulkan pertanyaan bagi kami. Di mana kami? Di meja perundingan kami berada di mana? Perang ini terjadi di Ukraina," katanya.
"Harus ada orang-orang di meja perundingan yang bisa menghentikan (Presiden Rusia Vladimir) Putin jika dia ingin kembali berperang dan mereka harus bisa memberi kami jaminan keamanan yang nyata - bukan sekedar janji - dan konkret. Kami siap untuk dialog seperti itu," sambungnya.