Bagikan:

YOGYAKARTA - Tari Suling Dewa adalah tarian tradisional yang memiliki nilai sakral dan historis. Tarian ini biasanya dipentaskan dalam upacara adat sebagai bentuk penghormatan kepada roh leluhur serta ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Keunikan dan makna filosofis di balik Tari Suling Dewa menjadikannya warisan budaya yang patut dilestarikan dan dikenalkan lebih luas. Lantas, dari mana asal Tari Suling Dewa tersebut?

Dari Mana Asal Tari Suling Dewa?

DIlansir dari laman Sanggar Tari Gandes Pamantes, Tari Suling Dewa adalah salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menariknya, tarian ini hanya digelar ketika musim kemarau melanda, dengan tujuan untuk memohon turunnya hujan. Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan.

Perlu diketahui, masyarakat Bayan, yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Lombok, sangat bergantung pada pertanian. Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang, sehingga mempengaruhi siklus kehidupan masyarakat. Bahaya kelaparan pun mengancam.

Hingga kemudian, masyarakat Bayan percaya bahwa tiupan seruling dewa dapat menurunkan hujan dari langit dan memberikan kehidupan baru di bumi. Oleh karena itu, mereka menciptakan tarian Suling Dewa sebagai ritual untuk memanggil hujan.

Baca juga artikel yang membahas Perbedaan Coto dan Konro, Dua Hidangan Ikonik dari Sulawesi Selatan

Makna Filosofis Tarian Pemanggil Hujan

Sebelum tarian dimulai, masyarakat Bayan menentukan hari, waktu, dan tempat yang dianggap baik untuk melaksanakan ritual. Mereka juga menyiapkan sesaji berupa kembang, makanan, dan kapur sirih. Kapur sirih merupakan komponen yang paling penting dan dipercaya dapat mendatangkan hujan.

Keunikan lain dari tarian Suling Dewa adalah pemahaman filosofis yang terkandung dalam suling yang digunakan.

Alat musik seruling menggambarkan wujud manusia. Jika seruling tidak ditiup, maka tidak akan menghasilkan nada-nada indah. Begitu juga dengan manusia, jika raga tanpa atma atau roh, tentu tidak akan ada kehidupan.

Selain untuk memanggil hujan, ritual Tari Suling Dewa juga diyakini dapat mengusir hewan pengganggu seperti hama tikus atau burung yang dapat merusak tanaman di ladang atau kebun milik masyarakat.

Tarian masyarakat Bayan ini juga sering digunakan untuk mengiringi ritual-ritual adat tertentu, seperti ritual adat Ngasah Ngaponin Sesinggan (cuci pusaka).

Tarian Pemanggil Hujan di Nusantara

Selain dari masyarakat Bayan, terdapat tarian-tarian pemanggil hujan yang bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari ritual dan kepercayaan masyarakat setempat. Berikut adalah beberapa tarian pemanggil hujan yang menarik lainnya:

  • Tari Sabet dari Banjarnegara

Tari Sabet merupakan tradisi masyarakat Desa Karangjati, Banjarnegara, yang menjadi bagian dari ritual Ujungan. Ujungan sendiri adalah pertarungan rotan antara dua orang yang diselingi dengan tarian dan hanya diperbolehkan memukul kaki.

Melalui Tari Sabet, warga memohon hujan ketika musim kemarau panjang melanda. Ritual ini mirip dengan tradisi Tiban dari Blitar, Jawa Timur.

  • Tari Gundala-Gundala Karo dari Sumatera Utara

Tari Gundala-Gundala Karo berasal dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tarian ini bertujuan untuk memanggil hujan atau dalam bahasa Batak disebut Ndilo Wari Udan.

Biasanya, para penari akan menggunakan kostum unik berupa jubah dan topeng kayu. Tarian ini berkisah tentang kesalahpahaman antara putri raja dan burung Gurda-Gurdi yang berujung pada pertempuran dan kematian burung tersebut.

Setelah kematian Gurda-Gurdi, hujan deras pun turun, sehingga tarian ini dikaitkan dengan permohonan hujan.  

  • Tari Sintren dari Cirebon

Tari Sintren adalah tarian tradisional masyarakat Jawa di Cirebon, Jawa Barat. Tarian ini juga dikenal dengan nama Lais, yang mengandung unsur mistis dan magis. Sintren berkisah tentang cinta kasih antara Sulasih dan Sulandono.

Tari Sintren diperankan oleh seorang gadis suci yang dibantu oleh pawang dan diiringi oleh musik gamelan. Sebelum menari, sang gadis dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang ditutupi kain.

Pawang kemudian membaca mantra untuk memanggil ruh Dewi Lanjar. Jika berhasil, sang gadis akan keluar dari kurungan dengan dandanan cantik dan menari diiringi musik. Tarian ini juga dipercaya memiliki kekuatan untuk mendatangkan hujan.

Selain dari mana asal tari suling dewa, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari VOI dan follow semua akun sosial medianya!