Bagikan:

YOGYAKARTA - Sosok Kepala Desa Kohod, Arsin bin Sanip, tengah menjadi sorotan berkaitan dengan kasus pagar laut di kawasan pesisir Tangerang, Banten. Banyak masyarakat yang memperbincangkan gaya hidup Arsin ini yang berubah drastis sejak menduduki jabatan Kades. Berbagai kontroversi Kades Kohod pun bermunculan. 

Sebelum memimpin desa, Arsin adalah seorang kuli borongan dan mantan pekerja bank keliling. Sejak tahun 2021 setelah dilantik sebagai Kades, Arsin dikenal sebagai orang kaya baru (OKB) di Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang. Sederet kontroversi pun menempel di perjalanannya sebagai Kades, mulai dari keterlibatan proyek besar hingga punya mobil elit. 

Deretan Kontroversi Kades Kohod

Nama Kades Kohod ikut dikaitkan dalam kasus pagar laut yang menghebohkan sejak beberapa waktu belakangan. Dirinya kemarin juga sempat berdebat dengan Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, lantaran mengatakan bahwa kawasan pagar laut dulunya adalah empang. 

Berikut ini beberapa kontroversi Kades Kohod, Arsin Bin Sanip, yang ramai dibicarakan oleh masyarakat:

Kekayaannya Bertambah Pesat 

Penduduk Desa Kohod tak dapat menyembunyikan rasa heran mereka terhadap perubahan besar yang dialami Arsin sejak menjabat sebagai kepala desa. Jika sebelumnya ia dikenal hidup sederhana, kini Arsin kerap dikaitkan dengan berbagai aset bernilai tinggi. Terlihat sebuah mobil mewah yang pernah digunakan olehnya.

Menurut cerita warga setempat kepada media, Arsin dulunya menjalani kehidupan yang pas-pasan. Setelah lulus dari sekolah dasar, ia mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk menjadi pegawai bank harian. Selain itu, Arsin juga sempat bekerja sebagai kuli borongan di desanya.

Selain mobil mewah, masyarakat menduga bahwa kekayaan Arsin mungkin berhubungan dengan proyek-proyek pembangunan di desa. Walaupun berbagai spekulasi beredar, hingga saat ini belum ada penjelasan resmi dari pihak desa mengenai asal-usul kekayaan Arsin. Bahkan, Arsin sendiri belum memberikan tanggapan terbuka terkait perubahan signifikan dalam kondisi finansialnya.

Relokasi Warga yang Berujung Banjir 

Selain tuduhan mengenai peningkatan kekayaan yang mencolok, kebijakan Arsin terkait relokasi warga juga menuai banyak kritik. Sejumlah warga yang direlokasi oleh pihak desa justru menghadapi masalah baru berupa banjir yang kerap merendam permukiman mereka setiap kali hujan deras terjadi.

Lokasi relokasi yang disediakan desa dikabarkan berada di area rendah dengan sistem drainase yang buruk. Hal ini menyebabkan air hujan dengan mudah menggenangi kawasan tersebut. Bahkan, lahan relokasi tersebut merupakan tanah urukan baru yang sebelumnya adalah sawah.

Keluhan dari warga semakin memperburuk reputasi Arsin di mata masyarakat. Mereka merasa dipindahkan ke tempat yang tidak layak tanpa perencanaan yang memadai. 

Selain itu, Arsin disebut tidak pernah muncul di hadapan warga sejak merelokasi rumahnya pada tahun 2024. Warga berharap Arsin dapat mengunjungi lokasi relokasi tersebut untuk melihat langsung kondisi tanah yang ia siapkan.

Dugaan Keterlibatan dalam Proyek Desa

Sejak menjabat sebagai kepala desa, nama Arsin sering dikaitkan dengan berbagai proyek pembangunan di Desa Kohod. Salah satu proyek yang paling disorot adalah pembangunan di kawasan desa yang diduga terkait dengan ekspansi proyek besar tertentu.

Proyek tersebut memengaruhi banyak lahan di sekitar desa. Warga mencurigai adanya aliran dana yang masuk ke pihak tertentu di pemerintahan desa.

Hingga saat ini, tidak ada penyelidikan resmi mengenai dugaan keterlibatan Arsin dalam proyek-proyek tersebut. Namun kurangnya transparansi dalam pengelolaan proyek desa semakin menimbulkan kecurigaan di kalangan warga.

Demikianlah beberapa kontroversi Kades Kohod, Arsin bin Sanip, yang hangat diperbincangkan. Baca juga Kades Kohod gunakan Rubicon atas nama orang lain

Ikuti terus berita terkini dalam negeri dan luar negeri lainnya di VOI. Kami menghadirkan info terbaru dan terupdate nasional maupun internasional.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+