JAKARTA - Presiden AS Donald Trump berjanji akan mengenakan tarif kepada Uni Eropa. Pemerintahannya kini juga mendiskusikan bea masuk sebesar 10 persen terhadap impor China karena fentanil dikirim dari Tiongkok ke AS melalui Meksiko dan Kanada.
Trump menyuarakan ancaman tarif terbarunya dalam sambutannya kepada wartawan di Gedung Putih sehari setelah menjabat tanpa segera mengenakan tarif seperti yang dijanjikannya selama kampanye.
Pernyataan ini menekanan keinginan lama Trump untuk memberlakukan bea masuk yang lebih luas dan batas waktu baru pada 1 Februari untuk tarif 25 persen terhadap Kanada dan Meksiko, serta bea masuk terhadap China dan Uni Eropa (UE).
Trump mengatakan UE dan negara-negara lain juga mengalami masalah surplus perdagangan dengan Amerika Serikat.
“Uni Eropa sangat, sangat buruk terhadap kami,” kata Trump dilansir dari Reuters, Rabu, 22 Januari.
Trump sebelumnya mengatakan dirinya mempertimbangkan untuk mengenakan bea masuk terhadap Kanada dan Meksiko kecuali negara itu menekan perdagangan migran ilegal dan fentanil, termasuk bahan kimia prekursor dari China melintasi perbatasan AS.
Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan bea masuk 10 persen terhadap impor Tiongkok karena perdagangan tersebut, namun menyesuaikannya dengan batas waktu yang ditetapkan pada 1 Februari.
China mengatakan pihaknya bersedia menjaga komunikasi dengan AS untuk mengatasi perbedaan dengan baik dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan.
BACA JUGA:
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan yang stabil dan berkelanjutan dengan AS, kata kementerian luar negeri China.
“Kami selalu percaya bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang atau perang tarif. China akan selalu menjaga kepentingan nasionalnya dengan tegas,” kata juru bicara kementerian Mao Ning kepada wartawan pada konferensi pers rutin pada Rabu, 22 Januari.
Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan kepada CNBC mengatakan ancaman tarif Trump terhadap Kanada dan Meksiko adalah untuk menekan kedua negara agar menghentikan migran ilegal dan obat-obatan terlarang memasuki AS.
“Alasan mengapa dia mempertimbangkan 25, 25 dan 10 (persen), atau apa pun yang akan terjadi, di Kanada, Meksiko dan Tiongkok, adalah karena 300 orang Amerika meninggal setiap hari akibat overdosis fentanil,” kata Navarro.