Kemenkes Catat Infeksi Baru HIV Turun Sebesar 54 Persen dari 2010-2022
Ilustrasi penyebaran HIV dan AIDS yang salah satu pencegahannya dengan edukasi. (Freepik)

Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya penurunan infeksi baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) sebesar 54 persen sejak 2010 hingga 2022.

"Dalam kurun waktu 2010 hingga 2022 telah terjadi kemajuan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi dalam taklimat media yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis 30 November, disitat Antara.

Imran mengatakan, adanya penurunan infeksi baru HIV/AIDS merupakan hasil dari akselerasi pengendalian HIV/AIDS yang berfokus pada intervensi pencegahan dan ekspansi berskala besar terapi anti retroviral (ARV).

Meski demikian, ia menyebutkan progresnya sempat terhambat pada masa pandemi COVID-19 yang menyebabkan penurunannya menjadi tidak signifikan pada era tersebut.

"Saya kira ini terjadi di semua (penyakit), tidak hanya HIV saja, namun TB juga, DBD juga," tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut Imran juga memaparkan target Multi Denominator 95-95-95 yang ditargetkan tuntas pada 2030 mendatang.

Ia menjelaskan Multi Denominator adalah nol penyebaran baru dengan target 95 persen orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui statusnya, nol kematian dengan target 95 persen ODHIV mendapatkan pengobatan ARV, serta nol diskriminasi dengan target 95 persen dimana ODHIV yang sedang mendapatkan ARV memiliki virus tersupresi (jumlah virus dalam tubuh rendah).

Berdasarkan data yang dihimpun Kemenkes, progres capaian Program Multi Denominator 95-95-95 hingga September 2023 mencatatkan sebanyak 515.455 estimasi ODHIV, dengan 454.723 (88 persen) ODHIV yang hidup dan mengetahui kasusnya, 209.288 ODHIV (48 persen) mengetahui kasus dan sedang mendapatkan pengobatan ARV, serta 69.149 ODHIV (33 persen) sedang dalam pengobatan ARV yang virusnya tersupresi.

Angka tersebut, kata Imran, masih jauh panggang dari api. Untuk itu Kemenkes telah melakukan berbagai upaya dari pencegahan, penemuan kasus, penanganan kasus, hingga upaya promosi kesehatan.

Namun ia menegaskan penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa dilakukan oleh pemerintah secara mandiri. Untuk itu ia mengajak seluruh pemangku kepentingan terkait seperti pemerintah pusat dan daerah, akademisi dan praktisi, masyarakat, komunitas, swasta, serta media untuk dapat bersama-sama menanggulangi HIV/AIDS.

"Sesuai dengan tema Hari AIDS Sedunia tahun ini bahwa komunitas itu perannya sangat besar. Bagaimana kita bisa membawa segera orang yang terdiagnosis (HIV/AIDS) untuk segera memulai pengobatan dan harus terkontrol itu sangat penting. Maka teman komunitas sudah harus naik kelas, bukan hanya menemukan ODHIV tapi juga membantu mereka untuk tetap mengonsumsi obat dan membantu kontrol secara teratur," pungkasnya.