Melacak Asal Usul Prank dalam Budaya Kejahilan di Dunia

Melacak Asal Usul <i>Prank</i> dalam Budaya Kejahilan di Dunia

Ilustrasi foto (Irfan Meidianto/VOI)

Bagikan:

Lewat "YouTuber Konyol yang Bahkan Tak Paham Apa Itu Prank", kita telah membahas teori prank yang menunjukkan bahwa banyak YouTuber sejatinya keliru mengartikan apa itu prank. Melanjutkan Tulisan Seri VOI "Prank! Prang! Prong!", lewat artikel ini kita cari tahu asal usul prank.

 

Dalam teori, prank kerap disebut dengan practical jokes alias humor praktik. Alasannya, selalu ada aksi dalam prank. Whoopee cushion prank, misalnya. Prank menduduki balon yang mengeluarkan suara kentut itu adalah salah satu yang paling sering dipraktikkan di Amerika Serikat. Klasik.

Secara etimologi, istilah "practical jokes" pertama kali digunakan pada 1804. Sebelum itu, lelucon atau candaan sejenis disebut dengan handicraft joke. Dari sisi budaya, tak mungkin bicara tentang prank tanpa mengaitkannya pada budaya April Mop alias April Fools Day.

Sejumlah literatur juga mengaitkan asal-usul prank dengan sejarah perayaan April Moop. Memang, banyak versi yang menjelaskan asal-usul April Mop. Salah satunya adalah yang diangkat oleh National Post. Dalam versi itu, prank disebut lahir pada penghujung abad ke-13, tepatnya tahun 1392.

Kala itu, legenda literatur asal Inggris, Chaucer menulis sebuah kisah tentang rubah nakal yang mengecoh orang-orang dengan menambahkan tanggal di bulan Maret hingga hari ke-32. Kisah itu ditulis Chaucer dalam bukunya yang masyhur, The Canterbury Tales.

Banyak orang meyakini maksud lelucon Chaucer sebagai caranya menyambut tanggal 1 April. Cara yang bagi Chaucer barangkali menyenangkan. Namun, pendapat lain yang dikemukakan banyak akademisi meyakini itu bisa saja cuma insiden salah ketik.

Dalam versi lain, April Mop diyakini lahir pada abad ke-16. Tepatnya, ketika kalender Gregorian diperkenalkan. Saat itu, masih banyak orang yang tak menyadari lantaran masih mengikuti kalender Julian. Mereka pun tertipu dengan perubahan tanggal tersebut.

Terlepas dari perdebatan kapan April Mop dimulai, perayaan itu telah menciptakan berbagai macam banyolan terkenal selama bertahun-tahun. Salah satu banyolan yang paling sukses dan jadi masyhur adalah prank yang dibuat sebuah stasiun televisi Swedia.

Dalam salah satu programnya, stasiun televisi itu menyebut akan membocorkan rahasia teknologi yang mereka simpan. Program televisi itu mengajak orang-orang untuk menutup layar televisi hitam putih mereka dengan kain nilon.

Langkah itu, menurut mereka akan mengubah warna dalam tampilan televisi menjadi warna-warni. Prank itu berhasil menipu ribuan orang Swedia secara massal. Stasiun televisi nampaknya berperan besar menyebarkan budaya prank di dunia.

Prank lain yang juga paling masyhur pernah dibuat oleh BBC. Dalam siarannya tahun 1957, BBC menampilkan tayangan seorang lelaki yang tengah memanen spageti dari sebuah pohon. BBC juga mengajarkan para penontonnya cara menanam pohon spageti. Tentu saja kibul belaka.

Selain pohon spageti, BBC juga pernah mengklaim bahwa jam gadang Big Ben di London, Inggris akan berubah menjadi digital pada tahun 1980. Ujungnya, sama.

 

Prank tertua

Prank tertua yang pernah tercatat adalah pada era Kekaisaran Romawi Elagabalus. Arkeolog Australia Warwick Ball mencatat kisah Elagabalus yang memerintah pada tahun 218 hingga 222 itu dalam karya tulisnya, Rome in the East: The Transformation of an Empire.

Warwick bercerita tentang sisi kelam Elagabalus sebagai seorang tiran berdarah dingin yang gemar berpesta pora. Elagabalus dikisahkan pernah mencekik tamunya dalam sebuah makan malam bersama. Namun, dalam sisi lain, Elagabalus juga punya sisi humor.

Sisi itu ditunjukkan Elagabalus ketika mengerjai tamu-tamunya. Dikisahkan, Elagabalus meletakkan bantal-bantal kulit di sebuah meja lesehan. Selama jamuan makan, anak buah Elagabalus membocorkan udara keluar dari bantal.

Practical joke yang diperagakan Elagabalus dan anak-anak buahnya membuat tamu-tamu terduduk ke lantai yang keras. Barangkali, cerita ini juga yang menginspirasi prank menarik kursi yang hendak diduduki seseorang. 

Selain kisah Elagabalus, prank lain pernah dicatat pada abad ke-15. Dikutip dari hoaxes.org, seorang biarawan Inggris bernama Thomas Betson menggambarkan bagaimana ia membodohi saudara kandungnya sendiri.

Ilustrasi foto (Irfan Meidianto/VOI)

Caranya terbilang cerdik. Betson sengaja menempatkan kumbang hidup di dalam apel yang sudah dilubangi. Akibatnya, buah itu seolah bergoyang dan bergerak maju mundur dengan sendirinya. Namun, orang-orang yang tak tahu malah meyakini bahwa buah tersebut kerasukan setan.

Betson bukan satu-satunya biarawan jahil di abad tersebut. Manuskrip lain membeberkan tips tentang cara membuat tempat tidur terasa gatal dan bagaimana membuat daging terlihat seperti cacing. 

Kemudian, satu lagi prank yang juga sering dilakukan adalah dengan menempelkan tulisan di belakang punggung orang lain. Prank itu sejatinya sudah mengakar di kalangan orang Inggris sejak tahun 1700-an.

Dalam perkembangannya, pesan dalam tulisan terus berkembang. Namun, di masa kemunculannya, kebanyakan tulisan prank tersebut bertuliskan: tendang saya!

Selain trik menempel tulisan, prank dompet bertali juga lahir di era yang sama. Dalam prank dompet tali, biasanya seseorang akan mengikat tali pada dompet dan meletakkannya di jalan. Nantinya, dompet itu akan ditarik ketika seseorang hendak mengambilnya.

Ikuti Seri Tulisan edisi ini: Prank! Prang! Prong!