أنشرها:

JAKARTA - Microsoft baru saja merilis laporan tahunan Digital Defense Report 2025 (MDDR 2025), yang menyoroti perubahan pola ancaman siber di seluruh dunia di tengah meningkatnya peran kecerdasan buatan (AI). 

Dalam laporan ini, Microsoft menyebutkan bahwa serangan berbasis identitas masih mendominasi, di mana lebih dari 97 persen serangan identitas, misalnya, berasal dari upaya menebak kata sandi secara massal. 

Selanjutnya, laporan ini juga menunjukkan di mana ransomware kini berevolusi menjadi pemerasan data. Jika sebelumnya pelaku hanya mengenkripsi sistem, kini mereka juga mencuri data sensitif untuk dijual atau digunakan sebagai alat negosiasi. 

Sektor publik seperti rumah sakit, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah menjadi sasaran yang paling rentan karena keterbatasan sumber daya keamanan.

Sementara itu, raksasa teknologi tersebut menemukan bahwa malware seperti Lumma Stealer kini menjadi pintu masuk baru bagi kejahatan siber. 

Jenis malware ini biasanya digunakan untuk mencuri informasi pengguna, termasuk kata sandi, token sesi, atau data pribadi, melalui kampanye malvertising maupun manipulasi hasil pencarian (SEO poisoning). 

Sejalan dengan perkembangan AI, pelaku kejahatan kini juga telah memanfaatkan AI untuk mempercepat pencarian kerentanan dan melipatgandakan skala phishing otomatis. Di mana serangan yang memanfaatkan AI memiliki tingkat keberhasilan 4,5 kali lebih tinggi dibandingkan tradisional.

“Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang begitu cepat perlu diimbangi dengan kesiapan dan disiplin keamanan yang kuat,” ujar Dharma Simorangkir, President Director Microsoft Indonesia. 

Untuk itu, Microsoft merekomendasikan lima langkah utama untuk memperkuat ketahanan siber:

  • Gunakan Multifactor Authentication 
  • Tingkatkan keterampilan dan kesadaran di seluruh divisi agar keamanan menjadi fungsi bisnis dan tanggung jawab bersama, bukan hanya tim IT
  • Perkuat perlindungan data dan cloud dengan pembaruan sistem serta deteksi ancaman di seluruh perangkat dan aplikasi
  • Manfaatkan AI secara aman dan bertanggung jawab, untuk mendeteksi, menganalisis, serta merespon ancaman dengan cepat. 
  •  

The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)