JAKARTA - Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Sumatera sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melaporkan perkembangan penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Tito mengungkapkan jumlah pengungsi di tiga provinsi tersebut sudah berkurang, dari sebelumnya dua juta jiwa kini tersisa 12 ribuan orang.
"Bencana hidrometeorologi di tiga provinsi ini melibatkan korban yang meninggal dunia, dalam data kita adalah 1205 orang dan yang hilang 139 orang, dan pengungsi juga tadinya dua juta lebih sekarang menjadi lebih kurang 12.994 orang yang ada di tenda," ujar Tito dalam rapat evaluasi dan koordinasi pemerintah bersama DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 18 Februari.
"Pengungsi di Aceh paling banyak, yang di tenda itu 12.144, kemudian yang di sumut ada 850 dan semuanya ada di Tapteng (Tapanuli Tengah). Di Sumbar, Alhamdulillah tidak ada lagi yang di tenda," imbuhnya.
Tito menuturkan, jumlah kabupaten kota yang terdampak banjir dan longsor Sumatera sebanyak 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, 4.511 desa, termasuk kerusakan rumah baik ringan, sedang maupun yang hilang sesuai data.
Fasilitas yang rusak diantaranya adalah fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, jembatan yang rusak maupun roboh, fasilitas ibadah baik masjid maupun gereja, jalan, kemudian fasilitas umum lain serta pengungsi.
"Dari data, yang di Sumbar saat ini sudah nol, dari sebelumnya 16.164 ada yang sudah pulang kembali, mendapat stimulan bantuan untuk rusak rumah ringan atau sedang sedangkan yang berat atau yang hilang tinggal di huntara atau mendapat DTH (dana tunggu hunian)," ungkap Tito.
"Jadi Sumbar, kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten/kota tidak terdapat pengungsi di tenda. Sumbar yang meninggal adalah 267 orang dan yang hilang adalah 70 orang. Kami lanjutkan di Sumbar 16 dari 19 kabupaten yang ada terdampak, 125 kecamatan, juga ada kerusakan-kerusakan baik rumah fasdik, faskes, rumah ibadah, sebagaimana data," sambung mantan Kapolri itu.
اقرأ أيضا:
Untuk korban bencana di Sumatera Utara, Tito menyampaikan bahwa korban yang wafat sebanyak 376 jiwa, dan yang hilang sebanyak 40 orang. Kemudian, pengungsi yang semula 53.523 orang menjadi 850 yang berada di Tapteng.
"Di samping itu, ada kerusakan rumah kurang lebih 30 ribu lebih baik rusak ringan, sedang maupun berat. Kemudian untuk Sumut dari 33 kabupaten/kota yang ada 18 terdampak, kecamatan 163, desa 897, juga ada rumah yang rusak ringan, sedang, berat maupun hilang, lalu ada fasdik, faskes, jembatan, termasuk gereja. Jumlah pengungsi yang tadi 53.523 sekarang tinggal 850 khususnya di Tapteng," katanya.
Kemudian di Aceh, warga yang wafat ada sebanyak 562 jiwa, yang hilang 29 orang dan pengungsi semula 1,4 juta orang sekarang tersisa 12.144 orang yang ada di tenda.
"Kerusakan rumah 262.258 dibagi klasifikasi rumah ringan, sedang dan berat. Kemudian untuk aceh ini memang dari 23 kabupaten/kota, 18 kabupaten/kota terdampak, kecamatan 203, desa atau kampung 3.046. Juga rumah yang ringan, sedang, dan hilang, lalu ada fasdik, faskes, rumah ibadah, kami lupa juga ada pertanian, perkebunan baik di Aceh maupun di Sumut dan di Sumbar," jelasnya.
Selain itu, lanjut Tito, jumlah korban pengungsi sebagaimana data di Aceh ada 12.144 paling banyak di Aceh utara, 5.197 di Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireun, Gayo Lues, Lhokseumawe, dan Nagan Raya. Untuk Sumut, 850 orang yang masih ngungsi di tenda.
"Seperti diketahui beberapa waktu yang lalu di Tapteng terjadi banjir lagi dan dari 18 kab/kota yang tinggal di tenda sebanyak 850. Sumbar pengungsi dalam catatan kami dan kami cek seluruh kepala daerah itu nol, tidak ada lagi yang tingal di tenda," kata Tito.
اقرأ أيضا:
Tito juga melaporkan progres pembangunan hunian sementara (huntara). Di Aceh, rencana pembangunan meliputi 14.967 unit, di Sumut 993 unit, dan di Sumbar 728 unit.
"Yang sudah terbangun di Aceh 6.676, Sumut 893, sumbar 721. Jadi total rencana 16.688 (unit), yang sudah terbangun 8.260 baik dari Danantara, BNPB, baik kementerian PU," terangnya.
Kemudian soal penyaluran dana tunggu hunian (DHT). Tito menyebut, DHT di Aceh sudah turun sebesar 94 persen, Sumut 99 persen, sumbar 97 persen. "Ini khusus untuk rumah rusak berat atau yang hilang. Mereka memilih untuk kontrak sewa atau tinggal di rumah keluarganya. Diberikan dana hunian Rp600 ribu x 3, (total) Rp1,8 juta. Minggu lalu kita melaksanakan secara serentak di 25 kabupaten/kota," sebutnya.
Sedangkan hunian tetap, Tito mengatakan rencana pembangunan huntap di Aceh ditargetkan sebanyak 9.246 unit, di Sumut 3.462 unit, dan Sumbar 3.621 unit. "Yang sekarang di Aceh sudah terbangun 302 (BNPB), Sumut ada 267 di antaranya dari Kementerian PKP, dan Sumbar 695," katanya.
"Jadi total rencana huntap itu adalah 16.039 untuk rumah berat atau hilang, sekarang baru terbangun 1.254," pungkas Tito.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)