JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Hari Rabu menyebut Perdana Menteri Bar de Wever sebagai pemimpin yang lemah, sehari setelah Belgia mengumumkan rencananya untuk mengakui Negara Palestina.
"Perdana Menteri Belgia de Wever adalah pemimpin lemah yang berusaha meredakan terorisme Islam dengan mengorbankan Israel," cuit kantornya di akun X resmi PM Israel, seperti dikutip 4 September.
"Ia ingin memberi makan buaya teroris sebelum ia melahap Belgia. Israel tidak akan menurutinya dan akan terus membela diri," lanjutnya.
Dikutip dari The Times of Israel, ini kedua kalinya dalam beberapa minggu Netanyahu menyebut seorang kepala pemerintahan "lemah."
Prime Minister's Office:
Belgian Prime Minister de Wever is a weak leader who seeks to appease Islamic terrorism by sacrificing Israel. He wants to feed the terrorist crocodile before it devours Belgium. Israel will won’t go along and will continue to defend itself.
— Prime Minister of Israel (@IsraeliPM) September 3, 2025
Sebelumnya, ia juga menyebut Perdana Menteri Australia Anthony Albanese sebagai "politisi lemah" setelah Canberra mengatakan akan mengakui negara Palestina.
Menanggapi pengumuman Belgia tersebut, Menteri Luar Negeri Gideon Sa'ar mengatakan kepada surat kabar Belgia, Sudinfo,itu adalah "keputusan yang sangat aneh, yang diambil di bawah tekanan."
"Tapi bagaimanapun juga, saya akan katakan terus terang: itu tidak akan terjadi sekarang!" lanjut Sa'ar.
"Jika Hamas terus menguasai Gaza, hal itu tidak akan pernah terjadi. Jadi, pertanyaan apakah negara Palestina akan berdiri atau tidak tidak terkait dengan keputusan pemerintah di Brussel, melainkan dengan keputusan pemerintah di Yerusalem," katanya.
Ditanya tentang masa depan Gaza setelah Hamas, Sa'ar mengatakan Israel "tidak berniat mengendalikan penduduk Palestina di Gaza."
"Mereka harus diberi otonomi, tetapi harus dikaitkan dengan berakhirnya dua hal: pertama, berakhirnya terorisme, tentu saja; kedua, berakhirnya hasutan," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Luar Negeri Maxime Prevot mengatakan pada Hari Selasa, Belgia akan mengakui negara Palestina di Sidang Majelis Umum PBB bulan ini, menambah tekanan internasional terhadap Israel setelah langkah serupa dilakukan oleh Australia, Inggris, Kanada dan Prancis.
Dalam unggahannya di media sosial X Menlu Prevot menuliskan, Belgia akan bergabung dengan para penandatangan Deklarasi New York, yang membuka jalan bagi solusi dua negara, atau Negara Palestina yang hidup berdampingan secara damai dengan Israel.
Keputusan ini diambil "mengingat tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, khususnya di Gaza, dan sebagai tanggapan atas kekerasan yang dilakukan oleh Israel yang melanggar hukum internasional," tambah Menlu Prevot, dikutip dari Reuters.
Belgia juga akan mengenakan 12 sanksi "tegas" terhadap Israel, seperti larangan impor produk dari permukimannya, peninjauan kebijakan pengadaan publik dengan perusahaan-perusahaan Israel, serta menyatakan para pemimpin Hamas sebagai persona non grata di Belgia, jelas Menlu Prevot.
اقرأ أيضا:
Belgia, yang merupakan anggota Uni Eropa, mengambil keputusan untuk meningkatkan tekanan terhadap Pemerintah Israel dan Hamas, kata Menlu Prevot.
Seorang pejabat Belgia menjelaskan kepada The Times of Israel, di PBB, Belgia akan mengumumkan "komitmen politiknya untuk mengakui Palestina, dengan mempertimbangkan solusi dua negara. Belgia juga menyerukan secara paralel semua negara Arab untuk mengakui Israel."
Belgia tidak akan mengambil langkah-langkah formal, seperti membuka kedutaan, hingga Hamas dilucuti senjatanya dan dikeluarkan dari peran pemerintahan apa pun, kata pejabat tersebut.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)