BI: Sinyal Hawkish The Fed Picu Pelemahan Rupiah

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dipengaruhi oleh menguatnya sentimen global, terutama setelah muncul sinyal hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang mendorong penguatan dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pernyataan para pejabat The Fed mengindikasikan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) berpotensi tetap tinggi hingga akhir tahun.

Menurutnya kondisi tersebut memicu penguatan indeks dolar AS (Dollar Index/DXY) yang pada akhir Juni berada di level 101, tertinggi dalam satu tahun terakhir.

“Jadi kombinasi signal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap dolar AS,” ujarnya kepada awak media, Selasa, 7 Juli.

Denny menjelaskan, pelemahan tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga terjadi pada berbagai mata uang negara berkembang lainnya.

Berdasarkan data BI, mata uang Rusia menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan sekitar 5,5 persen, disusul peso Chili sebesar 4 persen, baht Thailand 2,3 persen, serta rupiah yang melemah sekitar 1,4 persen.

Sementara itu, won Korea Selatan dan peso Filipina masing-masing terdepresiasi sekitar 1 persen, rupee India melemah 0,7 persen, sedangkan renminbi China turun sekitar 0,5 persen terhadap dolar AS.

Meski demikian, Denny menegaskan BI akan terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia menambahkan intervensi dilakukan baik di pasar domestik maupun internasional melalui transaksi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta komunikasi yang intensif dengan pelaku pasar.

“Bank Indonesia seperti biasa akan all out. Kemudian baik di pasar luar negeri maupun dalam pasar dalam negeri dengan transaksi di pasar spot, di pasar NDF, di pasar DNDF dan juga melakukan komunikasi Intens dengan pelaku pasar,” tuturnya.

Menurut Denny, dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya, kinerja rupiah masih relatif lebih baik, dan BI optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali menguat dan bergerak lebih stabil seiring penguatan sinergi kebijakan berbagai pihak.

“Oleh sebab itu tentunya sinergi dari berbagai pihak itu sangat diperlukan untuk sama-sama membawa rupiah kita menguat terhadap dolar AS,” imbuhnya.

Sebagai informasi, pada Selasa, 7 Juli, rupiah spot ditutup di level Rp17.980 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,08 persen dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya berada di level Rp17.995 per dolar AS.

Selain itu, pergerakan rupiah sempat dibuka melemah 0,03 persen ke level Rp18.000 per dolar AS. Namun, rupiah kemudian mulai menguat ke level Rp17.980 per dolar AS pada pukul 09.23 WIB.

Adapun sehari sebelumnya, rupiah juga sempat menyentuh posisi Rp18.006 per dolar AS pada perdagangan intraday sekitar pukul 14.15 WIB.