Purbaya Prediksi Tekanan terhadap Rupiah Mereda dalam Tiga Bulan

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan mulai mereda dalam dua hingga tiga bulan ke depan seiring membaiknya kondisi global dan tetap kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut Purbaya, sejumlah faktor eksternal yang selama ini menekan pasar keuangan, termasuk ketidakpastian geopolitik, berpotensi berkurang dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi tersebut diyakini akan memberikan ruang bagi penguatan rupiah.

“Kalau melihat berbagai pemberitaan internasional, ada indikasi Amerika Serikat, Iran dan Israel sangat dekat untuk membuat kesepakatan. Saya percaya dalam dua atau tiga bulan itu akan jauh lebih baik daripada sekarang, yang berarti bahwa gangguan yang sampai batas tertentu melemahkan rupiah juga akan hilang,” katanya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu, 31 Mei.

Purbaya mengatakan pemerintah tetap fokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik sebagai fondasi utama stabilitas nilai tukar. Ia meyakini mata uang suatu negara pada akhirnya akan mencerminkan kekuatan ekonomi yang mendasarinya.

“Secara teoritis, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya akan menguat juga, bukan? Sekarang saya fokus untuk memastikan bahwa ekonomi domestik akan terus tumbuh kuat dalam jangka menengah, jangka pendek, dan jangka panjang.Itu pada akhirnya akan memperkuat mata uang,” ujarnya.

Dia menilai prospek ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang positif. Bahkan, Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di kelompok G20.

“Kita tumbuh jauh lebih cepat daripada banyak negara. Bahkan di G20, kita berada di nomor dua setelah India. Jadi prospek ekonomi kita kuat dan melemahnya rupiah belum menciptakan efek redaman pada kegiatan ekonomi kita,” tuturnya.

Selain mengandalkan kekuatan ekonomi domestik, pemerintah juga terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjaga kondisi pasar obligasi agar tidak mengalami gejolak yang dapat memicu keluarnya dana investor asing.

Purbaya menjelaskan stabilitas pasar surat utang penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian global.

“Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan bank sentral untuk memastikan sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Mengapa kita melakukan itu? Untuk memastikan bahwa investor asing yang memegang obligasi domestik saat ini tidak mengalami capital loss yang terlalu dalam akibat gejolak pasar,” ucapnya.

Purbaya juga memastikan pelemahan rupiah saat ini belum memberikan dampak berarti terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi pergerakan nilai tukar dalam berbagai asumsi ekonomi makro yang digunakan dalam penyusunan anggaran.

“Dari sisi anggaran, kami sudah memperhitungkan depresiasi rupiah yang mendekati level saat ini. Jadi anggaran saya masih baik-baik saja meskipun rupiah melemah ke level saat ini,” ujar Purbaya.