Tasya Kamila Cerita Manfaat Les Bahasa Inggris untuk Anak, Bukan Sekadar Akademis tapi Percaya Diri
JAKARTA — Kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan yang semakin penting dikenalkan sejak dini kepada anak. Namun bagi aktris Tasya Kamila, manfaat mengikuti les bahasa Inggris ternyata jauh lebih luas dibanding sekadar kemampuan akademik.
Aktris sekaligus ibu dua anak itu membagikan pengalamannya mendampingi sang putra, Arasha, belajar bahasa Inggris sejak usia taman kanak-kanak.
Tasya Kamila mengaku mulai memperkenalkan bahasa Inggris kepada Arrasya sejak Taman Kanak-Kanak (TK-B), dan kini, anaknya yang sudah duduk di bangku kelas 2 SD (Sekolah Dasar), kemampuan bahasa Inggrisnya berkembang cukup pesat setelah rutin mengikuti kelas les.
"Arrasya sudah dikenalkan bahasa Inggris dari TK-B. Sekarang dia kelas 2 dan ikut les bahasa Inggris. Dari level awal, sekarang sudah sampai High Flyers,” ujar Tasya dalam konferensi pers High Flyers 4.0 yang digelar English1 di Kelapa Gading, Jakarta, Jumat, 29 Mei.
Menurut Tasya, perubahan terbesar yang ia lihat bukan hanya soal kemampuan speaking atau penambahan kosakata, tetapi juga rasa percaya diri anak saat berkomunikasi.
Di awal belajar, Arrasya termasuk anak yang kurang percaya diri ketika harus berbicara menggunakan bahasa Inggris. Ia sering merasa takut salah dan khawatir saat mencoba berbicara.
Namun perlahan, pendekatan belajar yang interaktif membuat anak sulungnya itu mulai menikmati proses belajar bahasa Inggris tanpa merasa terbebani seperti sedang belajar di kelas formal.
Tasya menilai metode pembelajaran yang diterapkan terasa lebih menyenangkan karena anak diajak aktif berinteraksi lewat role playing, conversation practice bersama guru dan teman, hingga berbagai aktivitas visual yang dekat dengan keseharian anak.
"Di kelas ada role playing, mereka belajar conversation dengan guru dan teman. Jadi nggak terasa kayak belajar,” katanya.
Tak hanya speaking, materi pembelajaran juga mencakup reading hingga narrative reading yang menurut Tasya sangat membantu melatih critical thinking anak sejak dini.
"Banyak kisah dan cerita yang dipelajari, itu sangat melatih critical thinking,” ungkapnya.
Hal lain yang membuat Tasya terkesan adalah cara belajar yang tidak menitikberatkan pada hafalan. Anak justru dibiasakan memahami bahasa lewat situasi aplikatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Vocab bertambah, tapi dipelajarinya bukan dengan menghafal. Dibikin situasi yang aplikatif di dunia nyata, sesuai rutinitas mereka,” jelas Tasya.
Kini, setelah sekitar satu tahun mengikuti les, Tasya melihat perkembangan signifikan pada Arasha, terutama dalam keberanian berbicara dan kemampuan problem solving.
Ia juga mengungkapkan Arrasya sangat menikmati suasana belajar yang interaktif. Kehadiran tayangan visual, animasi, hingga aktivitas seperti kartun membuat anak lebih antusias mengikuti pelajaran.
Manfaat belajar bahasa Inggris sejak dini pun tak hanya berdampak pada kepercayaan diri, perubahan itu juga terlihat pada prestasi akademik di sekolah. Tasya mengaku nilai bahasa Inggris sang anak meningkat cukup drastis.
"Dulu nilai bahasa Inggrisnya C, sekarang setelah setahun les jadi A,” ungkapnya.
Baca juga:
- Vaksin HPV Diperluas, Pemerintah Targetkan 90% Anak Indonesia Terlindungi pada 2030
- 2 dari 3 Wanita Terkena Kanker Serviks, Kemenkes Galakkan Imunisasi HPV Sebelum Usia 15 Tahun
- Jumlah Kasus Infeksi HPV Tipe High Risk Lebih Banyak di Indonesia
- Vaksin HPV Aman Diberikan pada Anak Laki-Laki dan Perempuan
Sementara itu, Academic Operations Manager English1, Kurniasari Anindita menjelaskan, program High Flyers 4.0 memang dirancang untuk membantu anak lebih siap menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktikkan percakapan sehari-hari, seperti memesan makanan di kafe, berbicara dengan dokter saat sakit, hingga memperkenalkan diri kepada teman baru.
"Setiap pelajaran punya target yang jelas dan terukur. Misalnya setelah menyelesaikan satu unit, siswa diharapkan mampu memperkenalkan diri atau menyampaikan cerita pendek,” jelas Anindita.
Ia menambahkan, metode pembelajaran tersebut mengacu pada standar internasional Common European Framework of Reference (CEFR) dan Cambridge English: Young Learners (YLE), sehingga murid juga dipersiapkan menghadapi sertifikasi bahasa Inggris internasional.
"Pertanyaan sederhana yang kami gunakan adalah: apakah anak-anak ini benar-benar siap berbicara bahasa Inggris di dunia nyata? Kami ingin jawabannya selalu ‘ya’,” ujarnya.
Selain metode belajar interaktif, High Flyers 4.0 juga dilengkapi aplikasi pembelajaran yang menghubungkan guru, murid, dan orang tua dalam satu ekosistem digital. Orang tua dapat memantau perkembangan anak secara langsung melalui ponsel, sementara guru bisa memberikan tugas dan evaluasi secara lebih praktis.
Menurut Anindita, sistem tersebut memungkinkan pembelajaran menjadi lebih personal sesuai kebutuhan masing-masing anak.
"Hasilnya, murid jadi lebih mandiri dalam belajar dan guru punya lebih banyak waktu untuk mendampingi setiap murid secara langsung,” tutup dia.