Crystal Palace Rebut Kembali Tempat di Liga Europa usai Juara UEFA Conference League
JAKARTA - Manajer Oliver Glasner mengatakan ia meninggalkan Crystal Palace di tempat yang seharusnya setelah memenangi UEFA Conference League dalam pertandingan terakhirnya sebagai pelatih.
Gol Jean-Philippe Mateta di babak kedua membuat Palace menang 1-0 melawan RB Leipzig pada Kamis, 28 Mei 2026, dini hari WIB, dan memenangi trofi Eropa pertama mereka.
Glasner telah mengumumkan pada Januari 2026 bahwa ini akan menjadi tahun terakhirnya di London selatan dan mengakhiri masa jabatannya dengan memenangi trofi besar keduanya di klub tersebut.
Gelar juara itu juga mengamankan tempat Crystal Palace di Liga Europa untuk musim depan--turnamen yang seharusnya mereka ikuti tahun ini sebelum UEFA memberi sanksi kepada karena melanggar aturan kepemilikan multiklub.
"Saya bahkan tidak percaya ini adalah pertandingan terakhir saya. Saya mengambil keputusan ini (untuk meninggalkan Crystal Palace)."
Baca juga:
"Ini adalah bab yang bagus untuk dibaca dalam buku Crystal Palace, tetapi bab-bab lain akan menyusul. Saya berkata kepada para pemain, raihlah sekarang apa yang pantas kalian dapatkan setelah memenangi Piala FA."
"Liga Europa tertunda satu tahun. Klub, suporter, dan para pemain mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan. Terkadang, Anda harus menempuh jalan memutar, dan sekarang Crystal Palace berada di tempat yang seharusnya," kata Glasner setelah pertandingan.
Berbicara dalam konferensi persnya sebagai Manajer Crystal Palace, Glasner mengatakan bahkan pesulap terbaik pun tidak akan bisa bekerja tanpa para pemain, saat ia merenungkan masa jabatannya selama dua tahun yang penuh trofi di klub tersebut.
"Saya hanya membimbing kelompok pemain dan staf ini. Saya mendukung mereka dan berkata, sungguh, ini bukan karena keyakinan saya 100 persen, saya tidak bisa melakukan apa pun (tanpa para pemain)."
"Saya bisa menjadi pesulap terbaik (tetapi) itu tidak akan berhasil tanpa para pemain. Jadi, semua pemain pantas mendapatkan pujian karena mereka harus mendengarkan, mereka harus memercayai saya serta staf, tentu saja."
"Mereka harus bekerja sangat keras. Saya pikir setiap pemain akan memberi tahu Anda bahwa saya sangat menuntut. Jadi, jika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang saya pikir seharusnya, atau jika pemain mungkin menurunkan standar mereka sebesar 1 atau 2 persen, saya tidak bisa menerimanya," ujar sang pelatih.
Sementara itu, selepas diragukan untuk memulai final karena cedera, gelandang Adam Wharton akhirnya memberikan kontribusi yang menentukan kemenangan dengan tembakannya yang ditepis kemudian disambar Mateta untuk mencetak gol.
Setelah laga itu, dia mengatakan bahwa tidak akan melewatkan final karena pergelangan kaki yang sedikit bengkak.
"Ada banyak keraguan (apakah saya akan bermain atau tidak). Saya hampir selalu mengompres kaki saya dengan es selama beberapa hari terakhir, hanya untuk mengurangi pembengkakan."
"Beberapa obat penghilang rasa sakit dan itu berhasil. Jadi, ya, jujur saja, saya tidak bisa menembak dengan sempurna. Memang tidak terlalu nyaman, tapi saya tidak akan melewatkan final hanya karena pergelangan kaki yang sedikit bengkak," kata Wharton.
Setelah semua pertanyaan diajukan, Glasner tetap berada di ruang pers di Leipzig untuk monolog terakhirnya sebagai manajer saat ia mengucapkan selamat tinggal kepada para jurnalis.
"(Konferensi pers terakhir) dan saya ingin mengucapkan terima kasih, terutama kepada semua (jurnalis) Inggris yang mungkin hadir di semua 120 konferensi pers."
"Jadi, terima kasih telah mengajukan pertanyaan yang tidak terlalu bodoh dan selalu mendengarkan aksen Eropa saya. Ya, terima kasih banyak dan hal yang dapat kami berikan ialah Anda dapat bepergian di Eropa musim depan juga."
"Jadi seperti para pemain, semoga Anda sudah memperpanjang visa Anda. Semoga Anda akan duduk dan menulis tentang (Crystal Palace di) final berikutnya tahun depan. Terima kasih banyak," tutur Glasner.