China Sambut Perkembangan Positif Kesepakatan AS-Iran Akhiri Perang
JAKARTA - Pemerintah China menyambut positif kemungkinan Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah sekaligus membuka blokade Selat Hormuz.
"Gencatan senjata antara AS dan Iran yang baru-baru ini terjadi, serta upaya untuk menyelesaikan masalah melalui negosiasi, disambut baik oleh negara-negara di kawasan tersebut maupun oleh komunitas internasional. China senantiasa meyakini dialog dan negosiasi merupakan jalan yang tepat untuk ditempuh sedangkan penggunaan kekuatan militer hanyalah jalan buntu," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Senin, 25 Mei dilansir ANTARA.
AS dan Iran disebut telah menyepakati, sebagai bagian dari kesepakatan awal, untuk membuka sepenuhnya Selat Hormuz dalam waktu 30 hari ke depan, menurut pemberitaan Washington Post mengutip seorang diplomat.
Kesepakatan perdamaian awal antara AS dan Iran itu juga mencakup penundaan pembicaraan nuklir hingga waktu yang akan datang, meski kerangka kesepakatan awal itu masih belum disetujui oleh pihak Iran.
Sedangkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Minggu (24/5) di New Delhi juga mengatakan kemajuan telah dicapai dalam penyusunan kerangka kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan.
Ia mengatakan AS bersama mitra di kawasan Teluk dalam 48 jam terakhir telah membuat kemajuan diplomatik terkait kerangka kesepakatan tersebut.
"Sangatlah penting untuk menjaga momentum peredaan situasi ini, tetap berpegang pada arah penyelesaian politik, senantiasa menjalin dialog dan konsultasi, serta mencapai penyelesaian yang mampu mengakomodasi kepentingan dan kekhawatiran semua pihak," tambah Mao Ning.
Mao Ning menyebut, penting pula untuk membuka kembali jalur-jalur pelayaran sesegera mungkin guna menjawab seruan komunitas internasional, serta secara bersama-sama menjaga stabilitas dan kelancaran rantai pasok global.
"Selain itu, tidak kalah penting untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan langgeng sesegera mungkin, demi memulihkan kembali perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah dan Teluk dalam waktu yang sesingkat-singkatnya," ungkap Mao Ning.
Sejak konflik ini bermula, Mao Ning menyebut China terus berupaya demi terciptanya perdamaian dan pengakhiran konflik tersebut.
"Presiden Xi Jinping telah mengajukan empat usulan mengenai upaya menjaga dan memajukan perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah. China juga akan terus bertindak selaras dengan usulan-usulan tersebut, serta bekerja sama dengan komunitas internasional guna memberikan dukungan yang lebih kuat bagi perundingan damai, sekaligus memainkan peran yang konstruktif dalam mewujudkan perdamaian yang langgeng di Timur Tengah," jelas Mao Ning.
Tren positif kesepakatan AS-Iran itu hanya berselang beberapa waktu setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada 13-15 Mei 2026. Saat ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga sedang berada di China untuk kunjungan resmi.
Pakistan diketahui memainkan peran penting dalam upaya perundingan AS-Iran sebagai tuan rumah perundingan damai di Islamabad pada 11-12 April 2026 meski gagal mencapai kesepakatan. Namun, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir juga sudah berkunjung ke Iran pada 22-23 Mei 2026 untuk membahas kesepakatan damai.
Sedangkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Iran siap meyakinkan komunitas internasional negara itu tidak mengembangkan senjata nuklir maupun menciptakan ketidakstabilan di kawasan.
Ia menuding Israel justru menjadi pihak yang mendorong ketidakstabilan kawasan melalui visi "Israel Raya."
Pezeshkian juga menegaskan para negosiator Iran tidak akan pernah berkompromi terkait "kehormatan dan martabat" negara.
Baca juga:
Pernyataannya itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan damai dengan Iran sebagian besar telah dirundingkan dan tinggal menunggu finalisasi.
Baik AS maupun Iran belum merilis detail negosiasi secara publik.
Ketegangan di Timur Tengah berawal pada 28 Februari 2026 saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata dua pekan, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Trump kemudian memperpanjang penghentian serangan untuk memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal terpadu.”
Ketegangan tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz — jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global.
Dampaknya, harga energi melonjak tajam dan menambah tekanan pada perekonomian dunia.