Fadli Zon Tegaskan Kebudayaan Jadi Kunci Menjaga Indonesia sebagai Negara Peradaban

JAKARTA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Indonesia perlu menemukan kembali identitasnya di tengah tantangan kebangsaan. Menurutnya, Indonesia tidak cukup dipahami sebagai negara biasa, tetapi sebagai negara peradaban.

Hal itu disampaikan Fadli saat menghadiri peringatan satu dasawarsa Pergerakan Indonesia Maju atau PIM di Hotel Ambhara, Jakarta, Kamis, 21 Mei.

Fadli mengatakan nilai kemanusiaan, kemajemukan, dan kebersamaan yang diusung PIM sejalan dengan Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945. Pasal itu menegaskan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.

Menurut Fadli, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa besar. Ia menyebutnya sebagai cultural mega diversity, yakni keberagaman budaya dalam skala sangat besar.

“Inilah bagian dari reinventing Indonesian identity, untuk menemukan kembali identitas kita,” kata Fadli.

Ia juga mengkritik cara pandang yang menyebut Indonesia lahir karena 350 tahun penjajahan. Menurutnya, narasi seperti itu bisa merusak cara generasi muda melihat bangsanya sendiri.

Fadli menilai yang harus lebih ditonjolkan adalah sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan.

Ia juga menyinggung pandangan Bung Hatta soal demokrasi. Menurut Fadli, demokrasi Indonesia harus berjejak pada budaya sendiri, yakni gotong royong, musyawarah, toleransi, dan kebersamaan.

“Ciri inilah yang sampai sekarang mempersatukan Indonesia,” ujarnya.

Fadli menyebut Indonesia sudah lama menjadi ruang pertemuan berbagai budaya. Karena itu, ia menilai Indonesia lebih tepat dipahami sebagai civilizational state atau negara peradaban, bukan sekadar negara modern biasa.

Dalam acara yang sama, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla atau sering disebut JK menekankan pentingnya disiplin dalam membangun bangsa. Menurut JK, akhlak dan budaya tidak mungkin terbentuk tanpa disiplin.

Ketua Umum PIM Din Syamsuddin mengatakan organisasinya tidak ingin diam terhadap persoalan struktural bangsa. Ia menyebut kemanusiaan, kemajemukan, dan kebersamaan sebagai jawaban bagi masa depan Indonesia.

Acara itu juga dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, mantan Ketua Mahkamah Agung Jimly Asshiddiqie, budayawan Eros Djarot, peneliti senior Siti Zuhro, serta sejumlah tokoh lain.