Pakar: Menu MBG Dirancang Penuhi Sepertiga Kebutuhan Gizi, Penting bagi Tumbuh Kembang Generasi Muda`

JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar upaya membagikan makanan di sekolah, melainkan sebuah intervensi strategis untuk memutus rantai masalah gizi pada kelompok rentan. Hal ini ditegaskan oleh Dewi Marfuah, S.Gz., M.P.H., perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Dewan Pimpinan Cabang Kota Surakarta, sekaligus Dosen Prodi S1 Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta (UMPKU).

Dewi menyoroti dilema nyata yang ditemukan di lapangan, banyak anak sekolah yang berangkat dengan perut kosong karena keterbatasan ekonomi di rumah.

"Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu kali waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 16 Mei.

Berdasarkan pengalamannya saat pengabdian di sekolah, jumlah siswa yang tidak sarapan seringkali lebih banyak dibanding yang sarapan. Pengalaman Dewi di lapangan juga diperkuat data dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada awal Februari 2026 lalu. 81 persen keluarga rentan menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program MBG. Sebabnya, terutama di kota-kota kecil, MBG dinilai oleh orang tua dapat memberikan kepastian nutrisi bagi anak sekolah.

Salah satu kisah datang dari seorang orang tua siswa bernama Ibu Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, NTT. Kisahnya memperkuat perubahan positif yang dialami pada anaknya, Antonio Adrian Stefanus, siswa kelas VI SD Negeri Weetabula II.

Ibu Adriana mengaku sangat terbantu dengan program MBG karena anaknya kini jadi lebih aktif dan semangat dalam proses belajar.

“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi. Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisik juga jadi terlihat lebih segar dan berenergi," terang Adriana.

Menurut Dewi sendiri, MBG memang dirancang untuk memenuhi hampir sepertiga kebutuhan nutrisi penerimanya.

“Program MBG dirancang untuk memenuhi seperempat hingga sepertiga kebutuhan gizi harian anak. Dengan menu gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayur, hingga buah, siswa diharapkan memiliki energi cukup untuk berkonsentrasi belajar tanpa rasa lemas,” imbuh Dewi.

Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Meski saat ini fokus utama terlihat pada anak sekolah, Dewi menjelaskan bahwa keberlanjutan program ini melalui Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) juga menyasar kelompok rentan lainnya, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

"Kita tidak ingin melihat lagi ada ibu hamil yang "kurus" karena nutrisinya habis terserap janin tanpa ada asupan pengganti yang memadai. Begitu pula dengan balita; pemberian makanan bergizi yang rutin, bukan sekadar sebulan sekali saat ke Posyandu, adalah kunci utama dalam menekan angka stunting di Indonesia.," tambah Dewi.

Namun begitu, masih ada masyarakat yang masih ragu dengan program MBG karena masalah keamanan pangan yang masih terus diperbaiki. Menjawab kekhawatiran masyarakat soal keamanan pangan dan risiko makanan basi, Dewi menjelaskan bahwa setiap unit SPPG wajib memiliki ahli gizi yang bertanggung jawab penuh. Standar operasional prosedur (SOP) kini sangat ketat.

“Ada rentang waktu ketat antara proses pengolahan hingga makanan dikonsumsi untuk mencegah makanan basi akibat pengemasan saat panas. Kemudian sebelum dibagikan ke siswa, guru bertindak sebagai tester untuk memastikan rasa dan kualitas makanan aman dikonsumsi,” terangnya.

Dewi juga mendorong peran aktif orang tua dan guru untuk memberikan masukan kepada SPPG jika menemukan menu yang kurang sesuai atau daya terima anak terhadap menu yang dibagikan rendah.

"Ahli gizi di lapangan bertugas melakukan edukasi dan memantau food waste (sisa makanan). Jika sisa makanan banyak, artinya ada yang harus dievaluasi dari daya terima menu tersebut," jelas Dewi.

Dewi mengajak seluruh lapisan masyarakat, guru, dan orang tua untuk ikut mengawasi dan memberikan edukasi. Ia berpendapat bahwa program ini adalah milik kita bersama. Dengan asupan yang aman, sehat, dan bergizi, kita sedang membangun fondasi bagi anak-anak Indonesia untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan kompetitif di masa depan.