Ekspor Cip Dongkrak Surplus Jepang ke Rekor Tertinggi
JAKARTA — Jepang kembali mencetak rekor surplus transaksi berjalan. Untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, surplusnya mencapai 34,52 triliun yen atau sekitar 219 miliar dolar AS. Ini menjadi rekor tertinggi selama tiga tahun berturut-turut.
Data awal Kementerian Keuangan Jepang yang dikutip Kyodo News, Rabu, 13 Mei, menunjukkan lonjakan surplus terutama ditopang ekspor semikonduktor dan pendapatan investasi luar negeri di tengah yen yang lemah.
Transaksi berjalan merupakan indikator luas yang mengukur arus uang masuk dan keluar suatu negara, mulai dari perdagangan barang, jasa, hingga hasil investasi.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, neraca perdagangan barang Jepang kembali surplus. Nilainya mencapai 1,36 triliun yen. Tahun sebelumnya, Jepang masih mencatat defisit 3,03 triliun yen.
Ekspor naik 3,3 persen menjadi 111,35 triliun yen. Permintaan cip dan perangkat elektronik Jepang dari Taiwan serta sejumlah negara Asia menjadi pendorong utama.
Baca juga:
Di sisi lain, impor turun 0,8 persen menjadi 109,98 triliun yen. Penurunan harga minyak ikut menekan nilai impor Jepang. Sepanjang tahun fiskal 2025, harga minyak rata-rata tercatat 71,41 dolar AS per barel, turun 13,3 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pemerintah Jepang menyebut dampak konflik Timur Tengah akibat serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari belum terlalu terlihat dalam data tahunan tersebut.
Pendapatan primer Jepang — yakni keuntungan dari investasi di luar negeri seperti dividen dan bunga — naik 2,1 persen menjadi 42,28 triliun yen.
Pelemahan yen terhadap euro ikut memperbesar nilai keuntungan investasi luar negeri saat dikonversi ke mata uang Jepang. Sepanjang tahun fiskal 2025, yen rata-rata melemah 6,8 persen terhadap euro menjadi 174,78 yen. Sementara terhadap dolar AS, yen rata-rata berada di level 150,72.
Namun, sektor jasa masih menjadi titik lemah. Neraca jasa Jepang mencatat defisit 3,88 triliun yen. Defisit melebar akibat meningkatnya pembayaran untuk riset dan pengembangan di luar negeri.
Surplus sektor perjalanan juga sedikit turun menjadi 6,57 triliun yen dari sebelumnya 6,60 triliun yen. Kenaikan wisatawan asing ke Jepang sebagian tertutup oleh meningkatnya warga Jepang yang bepergian ke luar negeri.
Khusus Maret, Jepang mencatat surplus transaksi berjalan sebesar 4,68 triliun yen, naik 29,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pejabat Kementerian Keuangan Jepang mengatakan konflik Timur Tengah mulai memukul perdagangan Jepang dengan kawasan tersebut. Berdasarkan data terpisah, impor dan ekspor Jepang ke Timur Tengah turun sekitar 10 persen secara tahunan.