Edukasi dan Deteksi Dini Preeklamsia Dinilai Penting untuk Turunkan Risiko Komplikasi Kehamilan
JAKARTA - Preeklamsia hingga saat ini masih menjadi momok menakutkan bagi kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Berdasarkan data nasional, komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi ini menyumbang Angka Kematian Ibu (AKI) yang cukup signifikan, yakni mencapai 5 hingga 10 persen dari total kehamilan di Tanah Air.
Kondisi tersebut sering kali muncul tanpa gejala yang kentara, sehingga banyak ibu hamil yang baru menyadari bahaya saat kondisi sudah memasuki tahap kritis.
Dalam rangka memperingati Hari Preeklamsia Sedunia yang jatuh pada 22 Mei, upaya edukasi pun terus digalakkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Salah satunya melalui agenda seminar kesehatan yang digelar oleh Holywings Peduli di Livehouse Semarang pada Minggu, 10 Mei.
Kegiatan ini menyoroti betapa fatalnya dampak preeklamsia jika tidak ditangani dengan prosedur medis yang tepat, mengingat secara global kondisi ini bertanggung jawab atas 70.000 kematian ibu dan 500.000 kematian janin setiap tahunnya.
Sebagai pembicara dalam seminar, dr. Deviana Ogilve dari Rumah Sakit Siloam Semarang menjelaskan, preeklamsia merupakan kondisi medis kompleks yang memerlukan perhatian khusus sejak trimester kedua kehamilan.
Gejala yang patut diwaspadai antara lain adalah pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, gangguan penglihatan, hingga tekanan darah yang melonjak drastis secara tiba-tiba.
Baca juga:
Menurut Deviana, rutin melakukan kontrol kehamilan atau antenatal care adalah benteng pertahanan utama bagi para calon ibu.
“Preeklamsia sering kali muncul tanpa gejala yang jelas di awal, sehingga pemeriksaan rutin selama kehamilan sangat penting. Dengan deteksi dini, risiko komplikasi bagi ibu dan bayi dapat ditekan secara signifikan,” kata dr. Deviana.
Ia juga menekankan bahwa pola hidup sehat dan pemantauan tekanan darah secara mandiri di rumah dapat menjadi kunci preventif yang efektif bagi keluarga.
Senada dengan hal tersebut, Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program Holywings Peduli, Andrew Susanto, menegaskan bahwa pemahaman masyarakat terhadap risiko kehamilan harus diperkuat. Melalui akses layanan kesehatan gratis yang disediakan, pihaknya juga berharap para ibu hamil tidak lagi merasa ragu untuk memeriksakan kondisi fisiknya secara berkala.
Selain edukasi, bantuan berupa fasilitas kesehatan seperti tabung oksigen dan kursi roda juga disalurkan untuk memperkuat operasional Posyandu di wilayah Tanjung Mas, Semarang.
“Kami melihat masih banyak masyarakat yang belum memahami bahaya preeklamsia. Melalui seminar ini, kami ingin mendorong edukasi yang lebih masif sekaligus memberikan akses layanan kesehatan gratis serta bantuan nyata bagi fasilitas kesehatan dan lingkungan sekitar,” tutur Andrew.
Apresiasi pun hadir dari tokoh dan masyarakat sekitar, yang meyakini langkah edukatif ini dapat memberikan dampak langsung pada kualitas kesehatan warga. Kehadiran fasilitas cek kesehatan gratis bagi remaja dan wanita dewasa dinilai sangat krusial dalam mendeteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular yang bisa memicu komplikasi saat hamil di masa depan.
Edukasi semacam ini pun diharapkan dapat menurunkan stigma serta ketakutan masyarakat dalam menghadapi prosedur medis kehamilan.