Israel Tuduh Iran Rekrut Mata-Mata Lewat Media Sosial

JAKARTA - Kepolisian Israel menuding intelijen Iran memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk merekrut mata-mata di Israel. Perekrutan disebut-sebut dilakukan melalui berbagai taktik, mulai dari iming-iming finansial hingga pemerasan seksual yang menyasar orang-orang dengan kondisi rentan.

Strategi itu disebut mengandalkan eksploitasi platform media sosial seperti Facebook dan WhatsApp untuk menjangkau target potensial, termasuk individu yang memiliki akses ke sektor-sektor penting, seperti lembaga pertahanan dan militer. Perkembangan ini dinilai menunjukkan meningkatnya intensitas perang intelijen senyap antara Teheran dan Washington.

Tuduhan ini mencuat setelah penangkapan dua anggota Angkatan Udara Israel yang didakwa terlibat dalam kasus spionase. Mengutip laporan Voice of Emirates, Sabtu (9/5/2026), hasil penyelidikan mengungkap sekitar 50 tersangka diduga terlibat dalam lebih dari 20 kasus spionase sepanjang 18 bulan terakhir.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan melibatkan seorang prajurit cadangan yang bertugas dalam sistem pertahanan udara Iron Dome. Kasus ini memunculkan dugaan Iran tengah berupaya mengumpulkan intelijen strategis untuk mengidentifikasi target penting serta menyusun rencana serangan rudal untuk masa mendatang.

Kapten Seffi Berger dari unit investigasi Lahav 433 mengungkapkan, agen Iran diduga menyusup ke grup WhatsApp dan Facebook yang banyak diikuti para pekerja lepas serta pencari kerja. Selain menawarkan bayaran, agen intelijen Teheran juga disebut menggunakan jebakan melalui situs dewasa, lalu memanfaatkan materi dewasa untuk memeras target agar mau bekerja sama.

Menurut Berger, agen-agen tersebut memanfaatkan tekanan psikologis dan kesulitan ekonomi korban agar mau menuruti perintah. Modus ini dinilai efektif karena menyasar individu yang berada dalam kondisi rentan secara emosional maupun finansial.

Sumber keamanan Israel juga mencatat adanya perbedaan nilai pembayaran dalam jaringan spionase tersebut. Sebuah jaringan yang beranggotakan tujuh orang disebut menerima hampir US$ 300.000, namun ada pula tentara yang hanya menerima US$ 21 dan kini telah menjalani hukuman penjara selama dua tahun.

Hingga berita ini diturunkan, otoritas Israel tengah memburu sejumlah tersangka lain yang masih buron.