DeepSeek Pangkas Biaya Model AI Baru hingga 75 Persen, Memanaskan Perang Harga Kecerdasan Buatan China

JAKARTA - Perusahaan kecerdasan buatan asal China, DeepSeek, kembali mengguncang industri teknologi global setelah memangkas tarif penggunaan model AI terbarunya hingga 75 persen. Langkah agresif ini dinilai sebagai strategi besar untuk memperluas adopsi teknologi sekaligus memperketat persaingan dalam industri AI yang semakin kompetitif.

Perusahaan yang berbasis di Hangzhou itu memberikan diskon besar bagi pengembang yang menggunakan model unggulan terbaru mereka, DeepSeek-V4-Pro, yang baru dirilis pekan lalu setelah lama dinantikan pasar.

Tak hanya itu, DeepSeek juga memangkas biaya untuk fitur cache input di seluruh platform AI miliknya menjadi hanya sepersepuluh dari tarif sebelumnya. Kebijakan ini secara drastis menurunkan biaya bagi pengguna yang kerap mengirim permintaan serupa atau berulang.

Langkah tersebut dinilai dapat memicu kembali perang harga AI di China, setelah sebelumnya DeepSeek mengguncang industri dengan peluncuran model R1 pada 2025.

Di tengah situasi ini, perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Google juga terus merilis model baru dengan kemampuan canggih, namun dengan biaya akses yang dinilai cukup tinggi.

Sementara itu, perusahaan AI asal China justru memilih pendekatan berbeda: menekan harga untuk mendorong perpindahan pengguna dan mempercepat adopsi di pasar global.

Harga Murah Jadi Senjata Strategis DeepSeek

DeepSeek menjadikan harga, aksesibilitas, dan kecanggihan fitur sebagai pembeda utama untuk menjangkau pengembang generasi baru serta pengguna korporasi.

Model DeepSeek-V4-Pro hadir dengan jendela konteks hingga 1 juta token. Artinya, model ini mampu memproses dokumen panjang, basis kode kompleks, hingga data dalam jumlah besar dalam satu alur kerja.

Kemampuan tersebut menjadi salah satu keunggulan utama karena mendukung kebutuhan pengembang yang membangun aplikasi AI skala perusahaan.

Selain itu, model ini dirancang agar mudah diintegrasikan dengan berbagai ekosistem AI lain seperti Claude Code, OpenClaw, dan OpenCode.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan maupun startup mengadopsi model tanpa perlu membangun ulang infrastruktur teknologi mereka.

Salah satu pendiri startup AI asal Bangalore, O-Health, Akshar Keremane, menilai langkah DeepSeek membuka peluang besar bagi banyak pelaku usaha.

“Harga yang lebih terjangkau, ketersediaan open source, dan fitur jendela konteks 1 juta token menurunkan hambatan bagi pengembang, startup, dan perusahaan kecil,” ujar Keremane.

Ia menambahkan, “Hal ini memungkinkan pengguna bereksperimen dengan kemampuan model dan skala yang sebelumnya tidak tersedia.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi DeepSeek tidak hanya berfokus pada harga murah, tetapi juga membuka akses teknologi AI canggih bagi lebih banyak kalangan.

China Perkuat Posisi dalam Persaingan AI Global

Pemangkasan tarif oleh DeepSeek dipandang sebagai langkah strategis China untuk memperkuat posisi dalam perlombaan AI global, khususnya menghadapi dominasi perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.

Selama beberapa tahun terakhir, Silicon Valley masih memimpin inovasi model AI generatif. Namun, biaya penggunaan layanan premium yang tinggi membuka peluang bagi pemain baru untuk menawarkan alternatif lebih ekonomis.

Dengan model berkinerja tinggi namun berbiaya rendah, perusahaan-perusahaan China mencoba membangun ekosistem AI yang lebih terbuka dan mudah diakses.

Strategi ini dinilai berpotensi mengubah peta persaingan global, terutama di negara berkembang yang membutuhkan solusi AI dengan efisiensi biaya.

Analis menilai bahwa langkah DeepSeek dapat memicu gelombang baru perang harga di sektor AI, sekaligus mendorong perusahaan lain untuk menyesuaikan model bisnis mereka.

Jika tren ini berlanjut, maka persaingan AI ke depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh siapa yang mampu menghadirkan inovasi dengan biaya paling efisien.

Ikuti Whatsapp Channel VOI