Presiden Trump Sebut Iran Ingin Selat Hormuz Tetap Terbuka di Tengah Krisis Keuangan

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Hari Rabu mengatakan, Iran menginginkan Selat Hormuz tetap terbuka agar dapat menghasilkan "500 juta dolar per hari," sambil mengaitkan hal itu dengan tercapainya kesepakatan dan blokade angkatan laut AS.

"Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup, mereka ingin dibuka agar dapat menghasilkan 500 juta dolar per hari (yang, oleh karena itu, adalah kerugian mereka jika ditutup!)," tulis Trump dalam unggahan Truth Social beberapa jam setelah memperpanjang gencatan senjata dengan Iran yang akan segera berakhir, melansir Al Arabiya dari AFP (22/4).

Presiden Trump menegaskan dalam unggahan tersebut, mempertahankan blokade AS terhadap selat tersebut, jalur air penting untuk sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam dunia, sangat penting untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.

"Mereka hanya mengatakan ingin selat itu ditutup karena saya telah sepenuhnya MEMBLOKADE (MENUTUP!), jadi mereka hanya ingin 'menyelamatkan muka.' Orang-orang mendatangi saya empat hari yang lalu, mengatakan, 'Tuan, Iran ingin membuka Selat Hormuz, segera.' Tetapi jika kita melakukan itu, tidak akan pernah ada Kesepakatan dengan Iran, kecuali kita menghancurkan seluruh negara mereka, termasuk para pemimpinnya!" tulisnya.

Dalam unggahan terpisah, ia mengatakan Iran "sedang mengalami keruntuhan keuangan!"

"Mereka ingin Selat Hormuz dibuka segera - Kelaparan akan uang! Kehilangan 500 Juta Dolar per hari. Militer dan Polisi mengeluh bahwa mereka tidak dibayar. SOS!!!"

Diketahui, Trump sebelumnya telah memperpanjang gencatan senjata AS dengan Iran untuk memberi lebih banyak waktu bagi pembicaraan perdamaian, dengan Tehran belum menanggapi keputusan tersebut pada Rabu pagi.

Trump memperpanjang tanpa batas waktu berakhirnya gencatan senjata, dengan alasan permintaan dari mediator Pakistan dan menekankan perlunya memberi waktu kepada kepemimpinan Iran yang "terpecah" untuk membentuk proposal.

Namun, Ia mengatakan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran - yang menjadi titik permasalahan bagi Teheran - akan terus berlanjut.