Presiden Minta Hambatan Investasi Disapu, Rosan: Pertek yang Mengganjal Tak Perlu Ada
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meminta arus investasi tidak terhambat aturan yang memperlambat eksekusi di lapangan.
Arahan itu disampaikan kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani saat pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (21/4).
Menurut Rosan, arahan Presiden tidak berhenti pada target angka investasi. Kepala negara menekankan investasi harus ikut menciptakan lapangan kerja yang tumbuh baik, benar, dan berkualitas.
“Jangan sampai ada regulasi-regulasi kita yang justru menghambat. Peraturan-peraturan kita yang justru menghambat. Pertek-pertek itu juga harus, kata Bapak Presiden, itu juga kalau menghambat tidak perlu ada,” kata Rosan.
Pertek yang dimaksud adalah persetujuan teknis, yakni dokumen atau rekomendasi dari kementerian dan lembaga yang biasanya dibutuhkan sebelum izin atau proyek bisa berjalan. Di lapangan, tahapan ini kerap dikeluhkan pelaku usaha karena membuat proses investasi lebih panjang.
Pesan itu keluar saat realisasi investasi kuartal I 2026 tercatat Rp498,79 triliun atau 100,36 persen dari target Rp497 triliun. Capaian tersebut naik 7,22 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penyerapan tenaga kerja juga mencapai 706.569 orang, atau tumbuh 18,93 persen secara tahunan.
Rosan mengatakan pemerintah diminta membandingkan aturan di Indonesia dengan negara-negara ASEAN dan standar OECD, kelompok negara maju yang menjadi acuan kebijakan ekonomi. Karena itu, pemerintah diminta mempercepat proses investasi dengan memangkas aturan yang dinilai memperlambat perizinan.
Baca juga:
Ia juga menyebut minat investor asing masih tinggi meski situasi global sedang dibayangi perang, geopolitik, dan geoekonomi. Dalam lawatannya ke Singapura, China, Korea, dan Jepang, Rosan mengaku mendapati komitmen investasi yang tetap besar.
Ia mencontohkan potensi investasi dari Jepang mendekati US$30 miliar, sementara dari Korea Selatan lebih dari US$10 miliar. China, kata Rosan, juga tetap menunjukkan minat investasi yang kuat.