Ikan Sapu-Sapu dan Masalah Ciliwung

Jakarta sedang sibuk menangkap ikan sapu-sapu. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan turun meninjau langsung kegiatan itu dan meminta kegiatan itu diperluas ke seluruh wilayah Jakarta. Pada 17 April 2026, petugas gabungan menangkap sekitar 68.880 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat 6,98 ton. Langkah ini patut diapresiasi. Namun, masalah Ciliwung bukan semata-mata soal ikan. Masalah utamanya adalah air yang kotor, limbah yang terus masuk, dan sungai yang belum sungguh-sungguh dipulihkan.

Karena itu, ikan sapu-sapu seharusnya dibaca sebagai gejala. Ia memang spesies invasif yang mengganggu. Tetapi kemunculannya dalam jumlah besar juga menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar, yakni sungai berada dalam kondisi yang memudahkan spesies tahan banting untuk hidup dan mendominasi.

Penelitian yang dimuat dalam Berita Biologi terbitan BRIN pada 2025 mencatat 37 spesies ikan di Ciliwung dari penelitian lapangan 2023–2024. Dari jumlah itu, 26 merupakan spesies asli dan 11 spesies eksotik. Temuan ini penting. Artinya, Ciliwung masih menyimpan keragaman ikan. Tetapi pada saat yang sama, tekanan dari spesies nonasli juga nyata.

Dalam studi yang dimuat di jurnal Biodiversitas, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) disebut mendominasi Ciliwung yang telah lama dikenal sebagai perairan tercemar. Ikan ini dikenal sangat toleran terhadap kualitas air yang buruk. Karena itu, selain memang tidak punya predator alami, ledakan populasinya patut juga atau bisa juga dilihat sebagai tanda bahwa kemampuan sungai menopang kehidupan yang sehat sedang menurun.

Masalahnya tidak berhenti pada banyaknya ikan sapu-sapu. Persoalannya lebih dalam. Ketika Ciliwung tercemar, ikan lokal juga makin sulit hidup. Spesies asli yang lebih peka terhadap kualitas air akan terdesak, bahkan bisa hilang dari bagian-bagian sungai yang kondisinya memburuk. Sebaliknya, ikan yang tahan terhadap air kotor justru lebih mudah bertahan dan mendominasi. Jadi, pencemaran bukan hanya memicu ledakan sapu-sapu, tetapi juga menyingkirkan ikan lokal dari habitatnya sendiri.

Gambaran itu terlihat dalam laporan resmi Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Dalam dokumen Inventarisasi Sumber Pencemar Sungai Ciliwung Provinsi DKI Jakarta yang diunggah pada 30 Juli 2025, disebutkan bahwa dari 30 lokasi sampel, 63 persen menunjukkan nilai COD melampaui baku mutu 100 mg/L, dengan rata-rata 1.259,39 mg/L. COD adalah ukuran untuk melihat besarnya beban pencemar dalam air. Makin tinggi angkanya, makin berat pencemarannya.

Pada parameter amoniak, laporan itu juga mencatat 50 persen dari 30 lokasi sampel melampaui baku mutu 10 mg/L, dengan rata-rata 19,86 mg/L. Amoniak umumnya berasal dari limbah rumah tangga dan bahan organik. Dalam kadar tinggi, zat ini beracun bagi ikan dan mengganggu kehidupan perairan.

Untuk total coliform, situasinya lebih berat. Seluruh lokasi sampel menunjukkan nilai di atas baku mutu 3.000 MPN/100 mL, dengan rata-rata mencapai 15.052.000 MPN/100 mL. Coliform merupakan indikator pencemaran dari kotoran manusia atau hewan. Angka setinggi itu menunjukkan kuatnya dugaan pencemaran dari buangan domestik di sekitar aliran sungai dan kawasan yang terhubung dengannya.

Angka-angka tersebut memperlihatkan akar masalah yang lebih serius. Dalam perairan dengan beban pencemaran setinggi itu, ikan yang tidak tahan air kotor akan sulit bertahan. Ikan lokal yang membutuhkan kualitas air lebih baik akan terus tertekan. Sebaliknya, ikan yang tahan pada kondisi buruk akan lebih mudah mendominasi. Karena itu, penangkapan ikan sapu-sapu bisa membantu mengurangi gangguan di sungai, tetapi tidak otomatis memulihkan Ciliwung.

Selama kualitas air tidak dibenahi, masalah yang sama akan terus berulang. Penangkapan ikan sapu-sapu hanya menangani gejala yang terlihat. Akar masalahnya tetap belum beres yakni limbah masih mengalir ke sungai, sanitasi buruk, pengawasan lemah, dan habitat terus rusak. Dalam keadaan seperti itu, ikan lokal akan makin sulit hidup dan ruang hidupnya makin sempit.

Operasi penangkapan mudah dilihat hasilnya. Angkanya jelas dan kegiatannya mudah dipublikasikan. Tetapi pemulihan sungai menuntut pekerjaan yang lebih mendasar, yakni pengawasan limbah, perbaikan sanitasi, penataan sumber pencemar, dan pemulihan habitat. Kerja ini memang tidak selalu terlihat. Namun justru itulah yang menentukan apakah Ciliwung benar-benar membaik atau hanya terlihat sibuk ditangani.

Karena itu, perang terhadap ikan sapu-sapu sebaiknya tidak dianggap sebagai jawaban utama atas masalah Ciliwung. Langkah ini baru menyentuh bagian yang terlihat. Selama air sungai tetap kotor dan sumber pencemaran tidak dibereskan, masalah yang sama akan terus muncul dalam bentuk berbeda. Ukuran keberhasilan seharusnya bukan hanya berapa banyak ikan sapu-sapu yang diangkat, melainkan apakah kualitas air membaik, limbah berkurang, habitat pulih, dan ikan lokal kembali memiliki tempat hidup.