Wayang Bayang China Bertahan 2.000 Tahun, Kini Berebut Penonton Muda
JAKARTA — Wayang bayang di Xiaoyi, Shanxi, China, menunjukkan kalau seni lama tidak selalu kalah oleh zaman. Menurut laporan China Daily yang dikutip Jumat, 17 April, para perajin di kota itu masih membuat boneka wayang sepenuhnya dengan tangan, dari memilih kulit, menggambar pola, mengukir, mewarnai, hingga menjahit tiap bagian.
Wayang bayang adalah seni pertunjukan bayangan yang menggunakan boneka kulit di balik layar. Sekilas, bentuknya mirip dengan wayang kulit di Indonesia, terutama dari bahan dan teknik memainkan bayangan, meski tradisi, cerita, dan musiknya berbeda.
Panggungnya tetap sederhana. Seperti dilaporkan China Daily, pertunjukan masih memakai layar kertas di bingkai kayu dan cahaya lampu minyak rapa, tanpa listrik, seperti yang digunakan sejak Dinasti Qing. Dari balik layar itu, kisah-kisah lama hidup lewat gerak batang tipis dan jari para pemain.
Guo Weiwei, perajin sekaligus pemain wayang bayang berusia 39 tahun, mengatakan wayang bayang Xiaoyi punya gaya yang tegas, sederhana, dan bertumpu pada garis-garis kuat. Ia memasukkan sentuhan estetik masa kini ke desain boneka tradisional, lalu mengembangkannya menjadi penanda buku, lampu hias, dan kotak hadiah pernikahan. Lewat video pendek, Guo juga memperlihatkan proses mengubah kulit sapi mentah menjadi figur wayang yang hidup.
Baca juga:
Wayang bayang masuk daftar pertama Warisan Budaya Takbenda Nasional China pada 2006. Namun pengakuan saja tidak cukup. Tantangannya kini adalah mencari penonton baru.
Di titik itu, nama Hou Jianchuan menonjol. Pewaris generasi kedelapan wayang bayang Xiaoyi ini tumbuh bersama pertunjukan rakyat yang dulu hadir di pasar malam kuil, pesta pernikahan, dan perayaan panen.
Jalan hidup Hou berubah saat ia menemui Wu Haitang, maestro tua wayang bayang, yang tinggal di rumah gua nyaris roboh. Boneka-boneka berharga milik Wu tersimpan di kotak rusak dan tertutup debu tebal. Pemandangan itu mendorong Hou berguru kepada Wu dan beralih dari pemain opera daerah menjadi dalang di balik layar.
Selain menjaga naskah dan teknik lama, Hou juga membuat pertunjukan baru. Dalam satu proyek, ia bekerja sama dengan Institut Riset Yungang untuk mengubah citra digital patung Buddha di gua-gua Yungang menjadi pertunjukan wayang bayang. Produksi itu kemudian menjadi pementasan tetap di lokasi selama 15 tahun.
“Untuk menjangkau penonton global, kita tidak bisa meninggalkan gaya nyanyian lokal tradisional dan inti artistik kita. Pada saat yang sama, kita bisa memanfaatkan musik sebagai bahasa universal,” kata Hou.
Sanggar Hou telah melatih lebih dari 300 murid. Pada 2016, Hou membawa wayang bayang Xiaoyi ke San Jose, Amerika Serikat. Untuk membawakan kisah cinta Liang Shanbo dan Zhu Yingtai atau The Butterfly Lovers, ia memakai musik Romeo and Juliet sebagai pengiring dan menutup pertunjukan dengan waltz. Bentuknya tetap tradisional, tetapi dibuka untuk penonton yang lebih luas.