Kasus Gunung Ungaran Jadi Alarm Keras, Ini Bahaya Bawa Bayi Naik Gunung yang Wajib Diketahui Orangtua

YOGYAKARTA - Mengenalkan alam kepada anak sejak dini memang terdengar menarik. Orangtua bisa menjalin kebersamaan yang hangat dengan si kecil di tengah pegunungan yang sejuk. Namun keinginan ini jangan sampai mempertaruhkan keselamatan bayi yang kondisi fisiknya jauh lebih rentan terhadap risiko cuaca pegunungan dibandingkan orang dewasa.

Belakangan ini, publik dihebohkan oleh video seorang bayi yang diduga mengalami hipotermia saat berada di jalur pendakian Gunung Ungaran, Jawa Tengah, Sabtu, 11 April. Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa alam bebas bukanlah tempat yang ramah bagi semua usia, terutama bayi. Memaksakan keinginan mengajak bayi naik gunung bisa memicu berbagai risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele.

Bahaya Bawa Bayi Naik Gunung

Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA, menegaskan berbagai komplikasi kesehatan yang dapat mengancam keselamtan bayi jika dipaksakan ikut mendaki gunung. Salah satunya, altitude sickness atau mabuk ketinggian.

Mabuk ketinggian terjadi ketika tubuh gagal beradaptasi dengan tekanan udara rendah dan kadar oksigen yang menurun di dataran tinggi. Pada bayi, kondisi ini jauh lebih berbahaya karena mereka belum mampu mengekspresikan rasa mual atau pusing seperti halnya orang dewasa.

"Pada anak yang kurang dari satu tahun, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga sudah menyatakan bahwa anak di usia satu tahun tuh enggak bisa menyampaikan keluhannya dengan jelas," kata dr. Arifin, dikutip dari Kompas, Rabu, 15 April.

Akibatnya, tanda vital seperti pusing atau mual sering tidak terpantu oleh orangtua. Tanda yang muncul pun cenderung samar, seperti rewel, sulit tidur, atau menolak minum. Masalahnya, gejala tersebut sering dianggap sebagai kelelahan biasa setelah perjalanan panjang, sehingga pertolongan medis terlambat diberikan.

Selain itu, suhu dingin di pegunungan menjadi ancaman lain yang tidak kalah berbahaya. Bayi memiliki rasio luas permukaan tubuh yang lebih besar dibandingkan massa tubuhnya. Hal ini menyebabkan panas tubuh mereka lebih cepat hilang ke lingkungan sekitar.

"Anak yang kecil, terutama yang lebih kecil lebih mudah kehilangan panas tubuh karena komponen rasio permukaan tubuh, luas permukaan tubuh terhadap massa tubuhnya, itu lebih besar," jelas dr. Arifin.

Kondisi ini membuat bayi sangat rentan mengalami hipotermia. Risiko ini semakin meningkat jika pakaian bayi lembap akibat keringat atau embun. Ditambah lagi, bayi tidak banyak bergerak selama perjalanan pendakian.

"Kalau anak bergerak, itu biasanya dia bisa menghasilkan kalor dari pergerakan tubuhnya. Tapi anak akan digendong. Akibatnya, tubuhnya pasif dan tidak menghasilkan panas dari aktivitas ototnya," terang dr. Arifin.

Tak hanya dingin, paparan sinar matahari di gunung juga perlu diwaspadai. Meski udara terasa sejuk, radiasi ultraviolet di dataran tinggi justru lebih kuat. Kulit bayi yang masih sensitif bisa mengalami iritasi atau bahkan terbakar. Selain itu, bayi juga kehilangan cairan tubuh tanpa terasa.

Yang tak kalah penting adalah faktor akses pertolongan medis. Ketika terjadi kondisi darurat di gunung, proses evakuasi tidak mudah dilakukan. Medan yang sulit dan jarak yang jauh bisa menyebabkan pertolongan medis terlambat dan memperparah kondisi bayi.

"Kalau terjadi sesuatu di atas, evakuasinya akan rumit. Jadi risiko untuk keterlambatan pertolongan itu juga jadi concern kalau kita mengajak anak untuk mendaki gunung," tegas dr. Arifin.

Kasus yang terjadi di Gunung Ungaran harus menjadi pelajaran penting bagi setiap orangtua. Masih banyak cara lain yang aman untuk memperkenalkan alam kepada si kecil. Keselamatan anak harus menjadi prioritas utama orangtua.

Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!