Tabayun Berujung Damai, Ery Makmur Minta Publik Maafkan Steven Wongso
JAKARTA – Perseteruan antara komedian Ery Makmur dengan kreator konten sekaligus binaragawan Steven Wongso akhirnya menemui titik terang.
Setelah sempat memanas di media sosial, keduanya kini telah bertemu, melakukan tabayun, dan sepakat untuk berdamai. Kabar ini disampaikan langsung oleh Ery Makmur melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam sebuah unggahan yang menampilkan foto kebersamaan mereka, Ery Makmur menyatakan bahwa Steven Wongso telah secara tulus mengakui ketidaktepatan pernyataannya yang sebelumnya memicu kontroversi.
"Alhamdulillah sudah tabayun dan berdiskusi dengan mas @steven_wongso .. beliau mengakui ketidaktepatannya secara tulus," tulis Ery Makmur dikutip VOI dari instagram pribadinya, Rabu, 15 April.
Ery juga menegaskan bahwa ia telah menyampaikan semua pesan dan aspirasi dari teman-temannya secara santun dan diterima dengan kepala dingin oleh Steven.
Menyusul perdamaian ini, Ery Makmur dengan rendah hati mengajak seluruh pengikut dan teman-teman online-nya untuk turut memaafkan Steven Wongso. Ia menekankan pentingnya menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
"Dengan rendah hati saya meminta teman-teman online semua untuk juga memaafkan beliau. Tidak semua perselisihan harus diselesaikan dengan amarah dan kekerasan.. gini kan lebih enak to??" lanjutnya.
Baca juga:
Komedian yang dikenal dengan salam "Slektheb" ini juga secara khusus meminta warganet untuk tidak lagi melontarkan komentar yang bersifat provokatif, guna menjaga suasana yang sudah kembali kondusif.
Perselisihan ini bermula dari sebuah konten yang dianggap merendahkan, di mana Steven Wongso membuat pernyataan kontroversial dengan menyebut orang gendut dengan kata-kata kasar.
Hal ini memicu reaksi keras dari banyak pihak, termasuk Ery Makmur dan rekan-rekan komedian lainnya seperti Coki Pardede, yang turut memberikan dukungannya dengan menyukai unggahan perdamaian ini.
Pertemuan damai antara Ery Makmur dan Steven Wongso ini menjadi contoh penyelesaian konflik yang dewasa di ruang digital, membuktikan bahwa dialog dan klarifikasi dapat menjadi jalan keluar yang lebih baik daripada perseteruan yang berkepanjangan.