Heboh Cahaya di Langit, BRIN Tegaskan Itu Jejak Peluncuran Roket China

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fenomena objek bercahaya yang terlihat di langit sejumlah wilayah Indonesia pada Sabtu 11 April. Cahaya tersebut dipastikan berasal dari jejak peluncuran roket China.

Fenomena ini sempat menghebohkan masyarakat di Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, hingga NTT sekitar pukul 18.40 WIB atau 19.40 Wita dan ramai diperbincangkan melalui sejumlah unggahan media sosial.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa objek bercahaya tersebut berasal dari peluncuran roket China jenis Smart Dragon-3 (Jielong-3).

“Cahaya yang terlihat di langit itu adalah jejak roket Jielong-3 yang sedang menuju orbit. Ekor cahaya tersebut berasal dari semburan gas roket saat melintasi atmosfer atas menuju antariksa,” kata Thomas dalam keteranganya, Selasa 14 April.

Menurut Thomas, roket tersebut diluncurkan pada pukul 18.32 WIB dari sistem peluncuran berbasis laut di wilayah pantai Yangjiang, Guangdong, China. Lintasan roket yang melintasi wilayah Indonesia membuat fenomenanya dapat terlihat dari berbagai daerah.

Ia menambahkan, roket Jielong-3 merupakan roket berbahan bakar padat yang mampu mencapai ketinggian hingga sekitar 500 kilometer. Dalam misi tersebut, roket digunakan untuk membawa satelit internet ke orbit sun-synchronous.

Fenomena cahaya yang tampak melengkung dan memanjang di langit malam merupakan efek visual dari gas buang roket yang memantulkan cahaya matahari di atmosfer atas. Hal ini membuat semburan gas tetap terlihat terang meski di permukaan Bumi sudah malam.

Thomas juga menegaskan fenomena ini berbeda dengan kejadian pada awal April 2026 yang sempat terlihat di langit Indonesia.

“Yang terjadi pada 4 April 2026 adalah jatuhnya sampah antariksa berupa sisa roket lama tipe CZ-3B, sedangkan yang terlihat pada 11 April 2026 ini adalah roket yang sedang diluncurkan, bukan benda jatuh,” ucapnya.

Ia menjelaskan, sampah antariksa biasanya terlihat terpecah dan terbakar saat memasuki atmosfer, sedangkan peluncuran roket menampilkan semburan gas yang berinteraksi dengan atmosfer atas.

Fenomena ini, lanjutnya, tidak berbahaya bagi masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas keantariksaan global yang sesekali dapat diamati dari wilayah Indonesia, terutama jika lintasan peluncuran melintasi kawasan ini.