WFP Peringatkan Lebanon Hadapi Krisis Ketahanan Pangan Akibat Perang Iran

JAKARTA - Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Hari Jumat memperingatkan, Lebanon menghadapi krisis ketahanan pangan karena perang Iran mengganggu pasokan barang di dalam negeri.

Gencatan senjata yang rapuh selama dua hari telah menghentikan sementara konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang pecah pada 28 Februari, tetapi sejauh ini belum meredakan perang paralel yang dilancarkan Israel terhadap sekutu Iran, Hizbullah, di Lebanon.

"Apa yang kita saksikan bukan hanya krisis pengungsi, tetapi dengan cepat menjadi krisis ketahanan pangan," jelas Direktur WFP untuk Lebanon Allison Oman, dilnsir dari Al Arabiya dari Reuters (10/4).

Ia juga memperingatkan, makanan menjadi semakin tidak terjangkau karena kenaikan harga dan permintaan di antara keluarga pengungsi.

Sementara itu, harga sayuran telah melonjak lebih dari 20 persen dan harga roti telah meningkat 17 persen sejak 2 Maret, kata WFP.

"Apa yang kita lihat sekarang adalah kombinasi yang sangat mengkhawatirkan: harga naik, pendapatan terganggu, dan permintaan meningkat seiring dengan terus berlanjutnya pengungsian bagi banyak keluarga," jelas Oman.

Lebanon menghadapi krisis berlapis, di mana beberapa pasar telah sepenuhnya runtuh – terutama di selatan, di mana lebih dari 80 persen pasar tidak lagi berfungsi – sementara pasar di Beirut berada di bawah tekanan yang semakin meningkat, kata Oman.

Banyak pedagang di daerah yang terkena dampak konflik di bagian selatan Lebanon melaporkan persediaan makanan pokok yang tersisa kurang dari satu minggu, tambahnya.

Kemampuan untuk mengirimkan bantuan makanan ke daerah-daerah yang sulit dijangkau di selatan, yang telah menghadapi pemboman hebat oleh serangan udara Israel sejak 2 Maret, menjadi semakin sulit.

Meskipun jembatan Qasmiyeh, yang sebelumnya terkena serangan, sekarang beroperasi, pergerakan tetap sulit. Sepuluh konvoi WFP telah mencapai selatan untuk memberikan bantuan kepada sekitar 50.000 hingga 150.000 orang yang membutuhkan dukungan kemanusiaan di bagian negara tersebut.

"Eskalasi ini mendorong komunitas rentan semakin dekat ke jurang kehancuran," kata Oman, menambahkan akibat eskalasi terbaru ini, sekitar 900.000 orang di seluruh Lebanon menghadapi kerawanan pangan, angka yang diperkirakan akan meningkat.