Banjir dan Angin Kencang Terjang Sumatera-Jawa Sejak Kemarin, Ribuan Rumah Terdampak
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kejadian banjir dan angin kencang masih mendominasi bencana yang terjadi dalam periode 7 April hingga 8 April 2026 pagi. Sejumlah wilayah di Sumatera hingga Jawa dilaporkan terdampak, dengan ribuan rumah warga terendam dan puluhan lainnya mengalami kerusakan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, laporan tersebut dihimpun dari berbagai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah terdampak.
"Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB mencatat peristiwa banjir dan angin kencang masih mendominasi kejadian bencana pada periode ini," kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Rabu, 8 April.
Banjir paling luas terjadi di Kota Bengkulu. Hujan deras pada dini hari memicu genangan dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 100 sentimeter dan merendam 26 kelurahan di delapan kecamatan.
Total 2.855 rumah warga terdampak, termasuk satu fasilitas ibadah dan satu fasilitas pendidikan. Petugas BPBD setempat langsung melakukan asesmen, pendataan, hingga evakuasi warga yang terjebak banjir.
"Petugas segera diturunkan untuk melakukan asesmen, pendataan, penyaluran bantuan logistik, serta evakuasi warga yang terjebak banjir," ucapnya.
Tenda pengungsian juga telah disiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan warga. Meski air mulai surut pada Selasa kemarin, petugas masih bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Bengkulu Tengah. Sembilan desa di tiga kecamatan terdampak banjir yang terjadi sejak Minggu, 5 April. Sebanyak 219 kepala keluarga tercatat terdampak, dengan sebaran terbanyak di Kecamatan Karang Tinggi.
Petugas melakukan kaji cepat dan evakuasi warga selama banjir berlangsung. Hingga laporan terakhir, kondisi di wilayah tersebut sudah berangsur normal.
Di Kalimantan Selatan, banjir juga melanda Desa Tanah Abang, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar. Sebanyak 74 kepala keluarga atau 180 jiwa terdampak dengan tinggi muka air mencapai 130 sentimeter.
Meski air telah surut, BNPB mengingatkan adanya potensi banjir kembali karena kondisi geografis wilayah yang lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya.
"Petugas terus memantau situasi karena wilayah tersebut memiliki dataran yang lebih rendah dibandingkan desa lain di sekitarnya, sehingga berpotensi mengalami kenaikan air kembali saat hujan deras atau mendapat limpahan air dari wilayah lain," urainya.
Selain banjir, cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang juga terjadi di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Peristiwa ini menyebabkan puluhan rumah mengalami kerusakan ringan, terutama pada bagian atap, serta menumbangkan sejumlah pohon.
Sebanyak 62 rumah terdampak di dua desa, yakni Desa Ngadipiro dan Desa Wilangan. Satu fasilitas tempat pemakaman umum (TPU) juga ikut terdampak akibat pohon tumbang.
Petugas bersama warga melakukan penanganan darurat dan pembersihan material pohon. Kondisi cuaca di lokasi dilaporkan sudah membaik.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada menghadapi masa peralihan musim hujan ke kemarau yang berpotensi memicu cuaca ekstrem.
"BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada masa peralihan musim hujan ke kemarau, seperti angin kencang, hujan ekstrem, puting beliung, banjir, dan gelombang tinggi," jelasnya.
Baca juga:
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana lain, termasuk gempa bumi. Salah satunya dengan menyiapkan tas siaga bencana dan rencana darurat sebagai langkah kesiapsiagaan.
BNPB juga mengingatkan warga yang tinggal di bantaran sungai untuk rutin memantau ketinggian air dan segera melakukan evakuasi mandiri jika hujan deras berlangsung lama.