BRIN Perjuangkan Akses Orbit dan Peran Indonesia di Forum UNCOPOUS 2026

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi antariksa di forum UNCOPOUS 2026. Hal ini dilakukan agar Indonesia mendapatkan akses orbit satelit secara adil.

Dalam forum UNCOPOUS, kependekan dari Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Penggunaan Luar Angkasa Secara Damai, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Robertus Heru Triharjanto mengungkapkan peran lembaganya secara global.

BRIN bertanggung jawab mendaftarkan seluruh objek antariksa milik pemerintah, swasta, hingga perguruan tinggi Indonesia ke otoritas global. Selain itu, Indonesia melalui BRIN kini menjadi rujukan penting dalam pemanfaatan data penginderaan jauh untuk kawasan Asia Pasifik.

"BRIN juga menjadi rujukan dalam pemanfaatan data penginderaan jauh berbasis satelit untuk mendukung pembangunan," ujar Heru dalam keterangannya, dikutip pada Kamis, 26 Maret.

Data citra satelit dari Indonesia telah digunakan di berbagai sektor, termasuk pertanian dan kehutanan. Untuk melengkapi kebutuhan data tersebut, BRIN juga mengembangkan teknologi radar sebagai alat pengawas perikanan dan deteksi dini polusi di laut.

Data satelit juga memiliki peranan yang sangat krusial dalam memitigasi bencana, mulai dari tsunami hingga banjir besar. Kedepannya, BRIN akan mengembangkan sistem komunikasi berbasis satelit untuk mendukung infrastruktur Internet of Things (IoT).

Indonesia telah menjaga diplomasi antariksa global sejak 1972. Indonesia pun dipercaya oleh PBB dalam membantu pengolahan data bencana bagi negara-negara di Asia Tenggara melalui program UN-SPIDER.

Melihat banyaknya satelit yang beroperasi di orbit rendah Bumi (LEO), seperti Starlink dan OneWeb, BRIN menekankan bahwa tata kelola ruang angkasa sangat penting. Dengan begitu, negara berkembang dapat ikut andil dalam persaingan pemanfaatan ruang angkasa.