Benarkah Menahan Amarah Picu Penyakit Autoimun pada Perempuan? Ini Penjelasan Ahli
JAKARTA - Penyakit autoimun semakin sering dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena sebagian besar penderitanya adalah perempuan. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru menyerang jaringan tubuh sendiri.
Namun muncul pertanyaan menarik, apakah kebiasaan menahan emosi, khususnya kemarahan juga bisa berperan dalam meningkatnya risiko penyakit autoimun pada perempuan?
Sejumlah penelitian menunjukkan perempuan jauh lebih rentan mengalami penyakit autoimun dibanding laki-laki. Diperkirakan sekitar 80 persen kasus penyakit autoimun terjadi pada perempuan.
Selain itu, perempuan juga memiliki tingkat gangguan psikologis yang lebih tinggi, seperti kecemasan, PTSD, hingga gangguan makan. Hal ini membuat para peneliti mulai melihat kemungkinan adanya hubungan antara kesehatan emosional dan kesehatan fisik, khususnya sistem kekebalan tubuh.
Dalam banyak budaya, perempuan sering diajarkan untuk bersikap sabar, menjaga perasaan orang lain, dan menghindari konflik. Tanpa disadari, hal ini membuat banyak perempuan terbiasa menekan perasaan mereka sendiri, terutama kemarahan.
Padahal marah adalah emosi yang normal dan manusiawi. Ketika emosi tersebut tidak pernah diungkapkan atau diproses dengan sehat, sebagian ahli percaya hal itu bisa memengaruhi kesehatan tubuh.
Psikolog Dana Jack menemukan pola yang ia sebut sebagai self-silencing, yaitu kecenderungan perempuan untuk membungkam diri sendiri, menekan kebutuhan pribadi, serta selalu berusaha menyenangkan orang lain. Ia menyebut perilaku ini berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi.
Baca juga:
Sejumlah penelitian juga menemukan emosi yang ditekan dapat memicu stres berkepanjangan dalam tubuh. Stres kronis sendiri diketahui memiliki dampak besar pada sistem kekebalan.
Ahli endokrinologi naturopati Dr. Jolene Brighten menjelaskan menekan emosi dapat memengaruhi keseimbangan tubuh.
"Menekan emosi, terutama kemarahan, telah dikaitkan dengan peningkatan stres, gangguan fungsi sistem imun, dan peradangan kronis yang dapat berkontribusi pada perkembangan atau memburuknya penyakit autoimun," ucap Dr. Jolene, dikutip dari laman The Independent.
Menurutnya, emosi yang tidak diproses dapat mengaktifkan sistem respons stres tubuh secara terus-menerus. Hal ini berkaitan dengan kerja sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) yang mengatur hormon stres seperti kortisol.
Jika kortisol terus tinggi dalam jangka panjang, sistem kekebalan tubuh bisa menjadi tidak seimbang. Dalam beberapa kasus, hal ini dapat memperburuk kondisi autoimun seperti rheumatoid arthritis, lupus, atau gangguan tiroid.
Meski begitu, para ahli menekankan hubungan antara emosi yang ditekan dan penyakit autoimun belum sepenuhnya terbukti secara langsung. Penyakit autoimun bersifat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik, hormon, lingkungan, hingga gaya hidup.
Psikolog kesehatan Dr. Sula Windgassen menegaskan kesehatan manusia dipengaruhi oleh berbagai aspek sekaligus.
“Kesehatan pada dasarnya bersifat biopsikososial dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Karena itu kita tidak bisa melihat penyakit hanya dari satu faktor saja," ucap Dr. Sula.
Ia menambahkan penelitian tentang penekanan emosi dan sistem imun masih terus berkembang, meskipun bidang psikoneuroimunologi telah menunjukkan bahwa kondisi psikologis memang dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Alih-alih terus menahan emosi, para ahli menyarankan agar perempuan mulai belajar mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka secara sehat. Cara ini tidak hanya baik untuk kesehatan mental, tetapi juga dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh.
Beberapa cara yang disarankan antara lain:
- Menulis jurnal untuk mengekspresikan perasaan
- Berbicara dengan terapis atau konselor
- Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga atau menari
- Latihan pernapasan dan mindfulness
- Membangun komunikasi yang lebih tegas dan sehat
Mengelola emosi bukan berarti meluapkan kemarahan tanpa kendali, tetapi memberi ruang bagi perasaan untuk diproses secara sehat.
Pada akhirnya, meskipun menahan emosi bukan satu-satunya penyebab penyakit autoimun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa kesehatan emosional dan kesehatan fisik saling berkaitan erat.
Mendengarkan tubuh dan memberi ruang pada emosi bisa menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.