Kunjungi Museum Sumut, Menbud Minta Teknologi dan Tata Pamer Harus Diperkuat
MEDAN - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan museum tidak cukup hanya menyimpan benda bersejarah. Saat meninjau Gedung Juang 45 Medan dan Museum Perkebunan Indonesia, Minggu, 8 Maret, ia menyoroti perlunya pembenahan tata pamer, pencahayaan, dan pemanfaatan teknologi digital agar museum tidak tertinggal dan lebih menarik bagi publik, terutama generasi muda.
Di Gedung Juang 45 Medan, Fadli mengapresiasi revitalisasi yang telah dilakukan. Namun ia memberi catatan bahwa pembaruan museum tidak boleh berhenti di tahap fisik. Menurut dia, bangunan yang menjadi saksi perjuangan rakyat dalam pertempuran Medan Area 1945-1949 itu masih perlu diperkuat dari sisi penyajian informasi dan pengalaman pengunjung.
“Ke depan kita tingkatkan lagi, terutama dari sisi lighting, tata pamer, dan pemanfaatan teknologi digital agar pengalaman pengunjung semakin imersif,” kata Fadli.
Fadli juga menyoroti koleksi numismatik yang dipamerkan. Menurut dia, uang dan prangko bukan hanya koleksi lama, melainkan penanda identitas negara pada masa awal kemerdekaan. Koleksi itu juga mencatat jejak perjumpaan berbagai komunitas, termasuk pekerja perkebunan yang didatangkan dari Jawa.
Baca juga:
Usai dari Gedung Juang 45, Fadli melanjutkan kunjungan ke Museum Perkebunan Indonesia. Ia menilai museum ini penting karena memuat sejarah komoditas perkebunan yang pernah menopang ekonomi kolonial dan membentuk sejarah Sumatra Utara.
Menurut Menbud, narasi itu perlu terus dihidupkan karena menunjukkan bagaimana kekayaan alam Nusantara pernah menjadi sumber kemakmuran negeri penjajah. Karena itu, museum harus tampil sebagai ruang belajar dan refleksi, bukan sekadar etalase koleksi.
“Di sini kita bisa melihat bagaimana sejarah perkebunan tumbuh sejak masa liberalisasi ekonomi pada tahun 1870. Berbagai komoditas seperti tebu, tembakau, dan tanaman perkebunan lainnya menjadi produk unggulan yang diekspor ke berbagai wilayah dunia, terutama ke Eropa,” ujarnya.