Mengenal Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia di Tengah Bayang-Bayang Perang Iran

YOGYAKARTA - Selat Hormuz adalah jalur sempit di kawasan Selat Persia yang dilalui kapal-kapal tanker yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Perang Iran yang semakin meluas menghambat lalau lintas kapal tanker yang membuat harga minyak dunia lansung melonjak tajam. Jadi, apa yang terjadi di Selat Hormuz bisa berdampak hingga ke dapur rumah tangga Anda. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang perlu Anda ketahui soal Selat Hormuz, perang Iran, dan dampaknya bagi stabilitas energi global.

Mengenal Selat Hormuz

Dilansir dari AP News, Selat Hormuz adalah jalur laut sempit berkelok yang menjadi pintu keluar masuk utama kapal-kapal tanker pemasok energi dunia. Titik tersempitnya memiliki lebar hanya sekitar 33 kilometer. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman sebelum akhirnya kapal-kapal berlayar ke samudra lepas.

Di sebelah utara selat berdiri Iran dengan garis pantai panjangnya, sementara di sisi selatan terdapat Oman. Meski kedua negara memiliki wilayah perairan di sana, Selat Hormuz secara hukum dipandang sebagai jalur internasional yang dapat dilalui kapal-kapal dari berbagai negara.

Kapal-kapal raksasa membawa minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, hingga Iran sendiri. Sebagian besar energi tersebut mengalir ke pasar Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk. Ketergantungan inilah yang membuat setiap gangguan di Selat Hormuz langsung terasa di pasar internasional.

Selat Hormuz telah lama menjadi jalur penting perdagangan dunia. Sejak berabad-abad lalu, jalur ini menjadi bagian dari rute perdagangan kuno yang menghubungkan Timur dan Barat. Keramik, sutra, tekstil, hingga rempah-rempah pernah melintas di perairan ini sebelum kini digantikan oleh kapal-kapal tanker.

Meskipun ada pipa alternatif di Arab Saudi dan UEA yang bisa mengurangi ketergantungan pada selat ini. Namun menurut berbagai analisis energi internasional, sebagian besar volume minyak yang melintas tidak memiliki jalur alternatif yang memadai. Artinya, jika Selat Hormuz terganggu, dunia tidak punya banyak opsi untuk menjaga kelancaran pasokan energi global.

Ancaman terhadap selat ini selalu berdampak langsung pada harga energi global. Dalam ketegangan terbaru perang Iran, sistem navigasi satelit kapal dilaporkan mengalami gangguan dan beberapa kapal menjadi sasaran serangan. Meski belum resmi ditutup, lalu lintas tanker turun drastis karena risiko keamanan meningkat tajam.

Beberapa perusahaan pelayaran global bahkan menangguhkan operasinya di kawasan tersebut. Perusahaan-perusahaan besar seperti Maersk dan operator lainnya memilih menahan kapal mereka hingga situasi kembali stabil. Tanpa jaminan keamanan, pelayaran melalui selat ini menjadi taruhan besar.

Data terbaru menunjukkan puluhan kapal tanker bermuatan penuh tertahan di kawasan Teluk, sementara puluhan lainnya menunggu di luar perairan selat. Ketika arus energi tersendat, efek dominonya menjalar ke seluruh rantai pasok global. Bayangkan jika gangguan berlangsung sebulan penuh, bukan tidak mungkin harga minyak menembus tiga digit dan pasar gas Eropa kembali mendekati level krisis seperti pada 2022.

Selain pembahasan soal Selat Hormuz, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!