Menpora Dorong Hukuman Seumur Hidup Pelaku Pelecehan Seksual di Cabang Panjat Tebing
JAKARTA – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendorong agar pelaku tindak pelecehan seksual terhadap atlet-atlet panjat tebing harus mendapat hukuman seumur hidup tidak boleh beraktivitas di dunia olahraga.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, menegaskan bahwa pelaku harus mendapat sanksi yang berat jika ada bukti-bukti kuat yang ditemukan dalam proses investigasi.
"Apabila memang ditemukan pelecehan atau bahkan tindak pidana kekerasan seksual serta kekerasan fisik kepada atlet, maka Kemenpora mengimbau agar sanksi paling berat, termasuk sanksi larangan seumur hidup terlibat di olahraga," ujar Erick dilansir dari situs resmi Kemenpora.
Baca juga:
Dugaan kasus pelecehan seksual dan tindak kekerasan terjadi dalam induk organisasi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Pelecehan itu dilakukan oleh Hendra Basir selaku pelatih kepala tim panjat tebing.
Erick mengutarakan bahwa kalau ada pelanggaran hukum, termasuk pelanggaran Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, maka pelaku harus diproses hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Jadi, pengabdian, pengorbanan, dan dedikasi atlet-atlet Indonesia dalam mengharumkan nama bangsa tidak seharusnya dinodai oleh tindakan-tindakan yang tidak terpuji serta berpotensi melanggar hukum," katanya.
Kemenpora juga langsung bergerak cepat mengambil tindakan terkait adanya kasus dugaan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap atlet yang menjadi perbincangan ini.
Salah satunya dengan membuka layanan saluran pengaduan kepada insan olahraga, baik atlet atau lainnya, yang mendapatkan atau menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual.
"Saya juga ingin menyampaikan kepada seluruh atlet Indonesia, di cabang olahraga mana pun, di tingkat mana pun. Kemenpora berdiri bersama kalian. Kalian tidak sendiri," kata Erick.
Mencuatnya kasus ini membuat FPTI langsung menonaktifkan Hendra Basir dan membentuk tim pencari fakta (TPF) untuk mendalami laporan. Hendra disebut-sebut melecehkan delapan atlet.
Hendra telah membantah melakukan pelecehan seksual maupun kekerasan fisik terhadap delapan atlet. Ia mengatakan bahwa tindakan memeluk atau mencium kening atlet putri dilakukan dalam konteks memberi semangat saat mereka mengalami tekanan mental.
"Silakan ditanyakan kepada delapan atlet terkait, bagian yang mana saya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Kalau sedang menangis atau mentalnya drop, saya peluk dan di akhir mencium keningnya, seperti kebiasaan kepada anak saya," ujarnya dikutip dari Antara.